Tag Archives: kampung halaman

Silaturahmi virtual

Silaturahmi Lebaran Secara Virtual di Tengah Pandemi

Tidak bisa mudik ke kampung halaman, bukan berarti kita tidak bisa tetap menjalani silaturahmi dengan sanak saudara. Beruntungnya kita saat ini hidup di era teknologi yang memungkinkan kita untuk tetap berkomunikasi beramai-ramai walaupun terpisah jarak.

Ada banyak aplikasi yang kita bisa gunakan secara gratis untuk berkomunikasi menggunakan video call. Entah itu Whatsapp, Zoom, atau yang terkini ada Messenger Rooms.

Alhamdulillah pagi ini tadi saya dan keluarga besar juga bisa melakukan silaturahmi secara virtual dengan menggunakan aplikasi Messenger Rooms. Awalnya kami ingin menggunakan aplikasi Zoom. Namun, tidak jadi karena ada beberapa yang kesulitan untuk menginstal.

Sementara itu, aplikasi Messenger Rooms terbilang cukup mudah digunakan karena kita tinggal mengklik saja link yang diberikan untuk bisa bergabung ke dalam ruang percakapan. Tidak perlu menginstal aplikasi tertentu.

Alhamdulillah pada hari lebaran ini kami masih bisa bermaaf-maafan melalui video call beramai-ramai. Senang rasanya bisa melihat wajah dan mendengar suara eyang, pakdhe, budhe, om, bulik, dan saudara-saudara di kejauhan sana.

Walaupun demikian, di balik kecanggihan teknologi yang ada saat ini, jika bisa memilih, kita semua tentunya ingin tahun depan bisa berlebaran bersama secara langsung. Secanggih-canggihnya teknologi, kehangatan yang terasa saat silaturahmi secara langsung tidak akan bisa tergantikan.

Apalagi dalam silaturahmi virtual ini tak jarang ada kendala teknis yang terjadi. Beberapa saudara tidak bisa bergabung karena versi OS yang tidak mendukung, internet yang putus-putus, suara yang tidak jelas, atau gambar yang blur. Jumlah wajah saudara-saudara yang bisa kita lihat secara bersamaan pun juga terbatas (hanya 8 participant yang bisa kita lihat dalam satu layar).

Semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Semoga tahun depan kita masih dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan dan bisa bersilaturahmi kembali dengan normal. Aamiin YRA. Rindu sekali rasanya merasakan suasana hari raya bersama sanak saudara.

Miss Hometown = Miss Childhood?

When you finally go back to your old hometown, you find it wasn’t the old home you missed but your childhood — Sam Ewing

Well, actually I can’t agree more on that quote.¬†ūüôā

Terkadang ketika jenuh dengan kesibukan atau rutinitas sehari-hari di tanah perantauan, terpikir oleh saya untuk pulang ke kampung halaman. Tiba-tiba perasaan rindu itu muncul begitu saja. Well, itu bukan berarti setiap menemui kejenuhan lantas saya beli tiket untuk pulang kampung :D. Menyalurkan hobi membaca, main sepakbola, badminton, lari, pergi ke alam, dan sebagainya bagi saya cukup menjadi media yang efektif untuk mengurangi kejenuhan itu.

Tapi poin saya sesungguhnya bukan itu :P. Ketika pertama kali membaca¬†quote¬†dari¬†Mr. Ewing tadi, saya pun berpikir, “Ah, benar juga ya.”

Setiap kali¬†pulang ke kampung halaman, bayang-bayang masa lalu seringkali muncul di benak saya. Bukan masa lalu yang kelam atau bagaimana ya, hehehe. Maksud saya begini. Ketika melalui sebuah jalanan, tanpa disadari saya bergumam dalam hati, “Ini jalanan yang dulu saya lalui setiap saya ke sekolah.”

Lalu, ketika saya berada di lingkungan rumah, “Di lapangan ini dulu saya biasa main sepakbola sama tetangga-tetangga saya”, “Di rumah ini dulu saya biasa dinasehati oleh orang tua”, dsb.

Ketika lewat sekolah, kampus, atau masjid, “Di sini dulu saya dan kawan-kawan rohis pernah kajian bareng.” Dan seterusnya, seterusnya ‚Ķ

Childhood Memories

Childhood Memories

Well, mungkin bukan maksud hati sengaja untuk mengingat-ingat masa lalu. Namun pikiran-pikiran seperti itu tanpa disadari memang sangat mungkin untuk muncul ke permukaan. Menurut saya, hal tersebut cukup wajar karena sebuah daerah disebut kampung halaman tentu karena ia memiliki  keterikatan historis yang panjang dengan kita, dan menjadi saksi bisu atas masa kecil atau remaja yang kita telah lalui di sana.

Namun, tak selalu yang namanya kerinduan terhadap kampung halaman itu terjadi karena kerinduan akan masa lalu. Kerinduan untuk bertemu dengan keluarga (orang tua), suasana, dan kuliner khas kampung halaman juga bisa menjadi sebab.

Satu hal yang pasti, kita tidak akan pernah bisa menangkap kembali masa¬†childhood¬†¬†itu. Tapi kita bisa menjadikannya sebagai refleksi atas apa yang telah kita lalui hingga kita berada di tempat kita yang sekarang. Menyegarkan kembali mimpi-mimpi yang pernah kita buat di masa itu, apa tujuan kita di dalam menempuh hidup ini, dsb. Yang dengan itu kemudian¬†ada energi positif yang bisa kita bawa kembali ke tanah perantauan. ūüôā