Tag Archives: e-lite express

Kapal untuk penyeberangan

Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N: Day 1 – Yangon (Bag. 2)

Saya tidak menyangka saya disediakan sebuah kamar oleh mertua senior saya di dalam flat itu. Mereka sendiri tinggal di kamar paling atas. Saya bercakap-cakap sebentar dengan beliau perihal itinerary saya selama di Myanmar ini. Kami juga sempat mengobrol hal yang lain tentang keluarganya dan Myanmar secara umum.

Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 11.30 saat itu. Saya dipersilahkan untuk istirahat dan mandi terlebih dahulu sebelum keluar makan siang bersama mereka.

Makan Siang di Restoran Myanmar

Sekitar pukul 12.15 setelah selesai mandi, saya berjumpa dengan kedua mertua senior saya kembali. Kami keluar makan siang bersama. Hujan rintik-rintik tengah turun ketika itu.

Kami makan siang di sebuah restoran masakan Myanmar yang terletak tak jauh dari situ. Sayang euy saya nggak mencatat nama restorannya. Tapi kalau tidak salah restoran tersebut berada di bilangan Bo Aung Kyaw Street. Kata beliau restoran tersebut menyajikan masakan halal. Oh ya, btw mertua senior saya ini seorang muslim juga.

Makan siang di restoran masakan myanmar

Makan siang di restoran masakan myanmar

Secara penampilan, masakan Myanmar ini tak jauh beda dengan masakan Indonesia. Lauk-pauk mereka seperti ikan, daging, ayam umumnya dimasak dalam bentuk kare. Cara memesan di restoran ini Continue reading

Downtown kota Yangon

Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N: Day 1 – Yangon (Bag. 1)

Minggu, 16 Agustus 2015

Check-in di Konter AirAsia

Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi (waktu lokal Kuala Lumpur) ketika saya mengantri di konter check-in AirAsia di Kuala Lumpur International Airport (KLIA2). Waktu subuh di Kuala Lumpur sendiri baru masuk pukul 6 pagi kurang beberapa menit.

Di konter check-in saya harus menunggu mbak petugas konter berdiskusi dengan rekan-rekan di konter sebelahnya, serta sempat menelepon seorang petugas AirAsia yang entah siapa selama beberapa menit. Mbak petugas konter itu perlu mendapatkan kepastian bahwa saya yang WNI ini memang tidak memerlukan visa untuk memasuki Myanmar.

Saya cukup maklum sih mbak petugas konter tersebut sampai perlu melakukan cross check beberapa kali. Sebab sampai saat ini warga negaranya, Malaysia, yang notabene salah satu negara dengan powerful passport (ranking 7 di dunia), masih harus mengajukan visa untuk berkunjung ke Myanmar. Tapi sebenarnya kebijakan bebas visa kunjungan selama maksimal 14 hari bagi WNI untuk masuk Myanmar sebenarnya sudah berlaku hampir setahun. Namun herannya kenapa petugas konter AirAsia masih belum mengetahui juga.

Saya sudah bersiap-siap menunjukkan website imigrasi Myanmar ini http://evisa.moip.gov.mm/noticetotourists.aspx andaikata mereka menagih visa Myanmar kepada saya. Di situ tertulis jelas Indonesia adalah salah satu negara yang mendapatkan pembebasan visa untuk kunjungan maksimal 14 hari. Untungnya mbak petugas konter tersebut akhirnya mengesahkan boarding pass saya.

Tiba di Yangon

Penerbangan Kuala Lumpur-Yangon berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam. Pesawat dijadwalkan take off dari KLIA2 pukul 06.55 dan tiba di Yangon International Airport pukul 08.00. Namun saat itu kami baru berangkat sekitar 20 menit kemudian karena pesawat masih belum selesai melakukan pengisian bahan bakar. Waktu Myanmar mengikuti timezone GMT+6.5, atau setengah jam lebih lambat dari Waktu Indonesia Barat (WIB) yang berada pada timezone GMT+7.

Mendarat di Yangon International Airport

Mendarat di Yangon International Airport

Di bagian imigrasi kita diharuskan untuk mengisi form kedatangan sebelum menghadap ke petugas. Salah satu poin yang ditanyakan pada form imigrasi tersebut adalah rencana durasi stay di Myanmar dan di mana kita akan menginap. Sebenarnya saya tidak berenana menginap selama di Myanmar karena memang malam-malam di Myanmar Continue reading