Category Archives: Curhat

Membuat Es Kopi Susu Kekinian Sendiri

Entah bagaimana awal mulanya, setahun belakangan ini es kopi susu kekinian begitu digemari oleh orang-orang. Tidak hanya kafe, banyak juga kedai kopi kecil yang menyediakan minuman yang satu ini.

Saya pernah mencoba beberapa kali membeli es kopi susu di beberapa kedai. Rata-rata harganya berkisar antara 20-25 ribu rupiah.

Tapi saya sebetulnya tipikal orang yang jarang ngopi di kedai kopi. Sepertinya bisa dihitung dengan jari jumlah ngopi di luar dalam setahun. Itu pun jarinya masih sisa.

Saya lebih suka membuat kopi sendiri di rumah atau kantor. Maklum, banyak ngopi di luar tidak baik bagi kesehatan kantong. Hehehe.

baca juga: Ngopi di Kantor

Selain itu, membuat kopi sendiri itu lebih menyenangkan. Walaupun alat yang saya punya sangat seadanya, tapi insya Allah nggak kalah kok rasa kopi yang dihasilkannya sama yang di kafe-kafe. Hahahaha.

Dua minggu belakangan ini saya tengah bereksperimen membuat es kopi susu sendiri di kantor. Video di YouTube ini jadi referensi saya dalam menentukan komposisi campuran yang saya buat. Saya pun juga menggunakan moka pot untuk menyeduh kopi karena hasilnya mendekati espresso.

Mengenai takaran masing-masing komposisinya, saya tidak sepenuhnya mengikuti resep yang diberikan di video tersebut. Saya mencoba bereksperimen mengubah takaran dalam setiap kopi susu yang saya buat.

Sejauh ini yang paling ok bagi saya campurannya sebagai berikut:
1. 20 gram gula aren cair
2. 100 gram susu full cream (merek Diamond)
3. 80 gram kopi moka pot (10 gram kopi gilingan medium fine + 100 gram air panas)
4. 80 gram es batu

Kenapa di atas saya sebut merek Diamond. Bukan bermaksud promosi, tapi serius, beda pabrikan susu, rasa kopi susu yang dihasilkannya berbeda juga. Saya sempat mencoba juga susu full cream merek Frisian Flag, tapi rasa susunya terlalu dominan dalam kopi susu yang dihasilkan. Terlalu creamy menurut saya. Walaupun sudah saya naikkan takaran kopinya menjadi 100 gram, rasa kopinya masih kalah.

Dibandingkan dengan memakai susu full cream merek Diamond, pahit-asam kopinya masih terasa lah dengan komposisi di atas. Dari segi harga, susu full cream merek Diamond 946 ml harganya sekitar 20 ribu rupiah. Sementara merek Frisian Flag, harganya sekitar 14 ribu rupiah. Lebih mahal Diamond, tapi rasanya lebih ok juga.

Tapi kembali lagi ke selera masing-masing sih. Dengan bereksperimen membuat kopi susu sendiri, nanti juga akan ketemu komposisi favorit kita. Dan tentunya sangat jauh lebih hemat. Hehehehe.

Kopi susu siap dinikmati

Susah Tidur

Setidaknya 4 hari terakhir ini saya mengalami susah tidur. Saya orang yang tidak suka begadang sebetulnya. Saya lebih suka tidur awal dan bangun awal. 5 Jam tidur sudah cukup bagi saya untuk kembali segar di pagi hari asalkan tidur berkualitas.

Sebenarnya pukul 10-11 malam saya sudah mematikan lampu kamar dan memejamkan mata. Tapi tidak bisa benar-benar terlelap. Perlu setengah jam untuk terlelap. Tapi tak lama kemudian mata terbuka kembali ketika jam masih menunjukkan pukul 12 malam.

Tidak enaknya, saya terbangun dalam kondisi sadar dan tidak mengantuk sama sekali. Saya paksakan tidur jelas tidak bisa. Akhirnya saya mencoba mengerjakan aktivitas lain yang agar mengantuk, seperti membaca buku, menyetrika baju, menata kamar, dsb.

Ketika sudah merasa bosan, biasanya mulai ada kantuk sedikit, di situlah saya mencoba memejamkan mata lagi. Walaupun bisa memejamkan mata, tapi tidur saya ya tidur-tidur ayam begitu. Tidur-melek, tidur-melek. Pagi hari pun kepala menjadi pusing. Susah untuk konsentrasi di kantor.

Olahraga lari yang saya lakukan di malam hari ternyata kurang manjur juga. Badan mungkin merasa lelah. Tapi entah kenapa pikiran saya malah menjadi semakin terjaga.

Saya masih mengidentifikasi penyebab saya susah tidur belakangan ini. Saya jarang sekali mengalami susah tidur sebetulnya. Sebelum ini hal yang mungkin menyebabkan saya susah tidur adalah pengaruh kopi, terlalu senang (ini sekali saja terjadi waktu pengumuman diterima di kampus idaman saya), dan kepikiran kerjaan.

Tapi biasanya hal itu tidak terjadi berturutan. Hanya semalam saja. Siangnya pun bisa tidur. Kali ini tidak. Entahlah.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Lari Malam di Gasibu

Gasibu menjadi tempat favorit saya untuk lari pada 1-2 bulan belakangan ini. Sebabnya karena saya lebih mudah untuk meluangkan waktu lari pada malam hari daripada pagi hari.

Apalagi pada bulan Ramadan kemarin lari pagi hari bukanlah sebuah opsi. Seminggu setidaknya 1 atau 2 kali saya berlari di Gasibu setelah salat Tarawih. Kebiasaan itu saya coba teruskan pasca Ramadan ini.

Dibandingkan lari di Saraga (Sarana Olahraga Ganesha) — tempat favorit lari saya biasanya — lari di Gasibu lebih murah. Hanya keluar duit Rp3.000 saja untuk parkir sepeda motor. Sedangkan di Saraga, kita perlu mengeluarkan duit untuk tiket masuk Rp4.000 (hari biasa) atau Rp5.000 (Sabtu, Minggu, atau hari libur nasional) dan Rp2.000 untuk parkir sepeda motor.

Baca juga: Lari Malam di Saraga

Selain itu sepertinya tidak ada istilah jam tutup di Gasibu ini. Saya pernah lari di Gasibu hingga jam 10 malam, dan bahkan hingga pukul 22.30, dan Gasibu masih cukup ramai orang pada jam segitu. Karena itu, berlari di Gasibu sangat fleksibel bagi saya yang sering pulang kantor pukul 7 atau 8 malam. Sementara itu Saraga hanya buka hingga pukul 9 malam, dan pada Ramadan kemarin hanya buka hingga pukul 6 sore saja.

Mengenai fasilitas tempat penitipan, saya tidak terlalu yakin apakah di Gasibu ada atau tidak. Saya pernah melihat beberapa orang menitipkan tasnya di pos petugas keamanan. Tapi saya tidak pernah mencobanya. Saya biasanya lari dengan membawa tas kecil.

Lari malam di Gasibu cukup menyenangkan, tapi tidak pada pagi hari. Pada pagi hari ramai sekali pengunjung yang berolahraga di Gasibu ini. Susah untuk jogging atau sekedar jalan kaki berkeliling di lintasan trek lari yang tidak begitu lebar itu. Karena itu, untuk lari pagi hari, opsi favorit saya masih di Saraga.

Terhipnotis oleh Cerita

Belum ada sepekan, film Avengers: Endgame sudah memecahkan rekor box office akhir pekan pertama pemutarannya. Total 1,2 miliar dolar AS sudah diraup dari pemutaran di seluruh dunia.

Dari situ terlihat betapa film ini sangat ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya. Bahkan sepanjang setahun semenjak pemutaran Avengers: Infinity War hingga menjelang diputarnya ‘Avengers: Endgame’ ini berbagai teori dan spekulasi telah berseliweran di jagat dunia maya mengenai bagaimana film Marvel Cinematic Universe (MCU) ini akan berakhir.

Orang-orang penasaran bagaimana nasib para hero yang mati dalam ‘Avengers: Infinity War’ dan bagaimana para hero tersisa bisa mengalahkan Thanos. Rasa penasaran itu pun terjawab sudah begitu menyaksikan film yang didaulat sebagai penutup serial MCU fase ketiga itu.

Di balik hype yang begitu tinggi mengenai film tersebut, saya pun jadi kepikiran… kok bisa ya kita sebegitu terhipnotisnya dalam mengikuti sebuah cerita fiksi. Kita mengikuti jalan ceritanya sedemikian rupa, menebak-nebak bagaimana ia akan berujung.

Avengers adalah salah satu contoh saja. Setiap orang saya yakin memiliki cerita favoritnya. Entah itu dari sebuah film, buku, atau media yang lain.

Ketika masih kanak-kanak, kita semua mungkin suka sekali dininabobokkan sembari mendengarkan sebuah cerita. Di sekolah juga mungkin kita sepakat saat-saat guru bercerita adalah saat yang menyenangkan.

Ada apa dengan sebuah cerita? Kadang-kadang saya pun nggak habis pikir juga. Ngapain sih saya niat banget mengikuti film MCU ini. Review-review di internet saya baca untuk memahami apa yang terjadi di film dan apa yang kira-kira akan terjadi di film berikutnya.

Padahal itu cerita fiksi bikinan manusia. Hal-hal detail sudah pasti selalu akan ada yang terlewat. Plot hole adalah sebuah keniscayaan, sedikit atau banyak.

Pertanyaan-pertanyaan atau ungkapan keheranan seperti “Eh, kenapa sih harus A yang mati”, “Kok musuhnya jadi gampang banget dikalahkan”, “Kalau A mati waktu lagi time traveling ke masa lalu, bukannya peristiwa yang terjadi di masa depan jadi berubah”, dan lain sebagainya akan selalu timbul.

Mungkin itulah salah satu asyiknya dalam mengikuti sebuah cerita. Memiliki rasa penasaran. Bertanya-tanya mencoba menjawab rasa keingintahuan. Juga berandai-andai mengenai jalan cerita.

Entahlah. Tapi mestinya ada penjelasan secara sains mengapa kita sebagai manusia bisa begitu tertarik dengan cerita.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Mahalnya Harga Tiket Penerbangan Domestik

Akhirnya saya menuangkan juga kekesalan saya di blog ini. Seperti yang sudah diketahui bersama sejak awal tahun 2019 ini harga tiket pesawat domestik melambung tinggi.

Saya sebetulnya bukan orang yang sering bepergian dengan pesawat antar kota di Indonesia. Kampung dan tempat domisili saya sekarang masih sama-sama di Pulau Jawa. Masih ada bus dan kereta api yang masih menjadi pilihan yang ramah.

Dahulu sesekali saya pergi menaiki pesawat jika ada urusan yang mendadak, atau memang tengah ada promo. Harga rata-rata tiket termurahnya ketika itu memang bersaing dengan kereta api kelas eksekutif.

Ketika harga tiket melambung tinggi awal tahun ini, saya belum merasakan dampaknya secara langsung. Hingga beberapa waktu yang lalu ada kawan dekat saya yang hendak menikah di Pekanbaru.

Saya melihat harga tiket pesawatnya gila-gilaan. Satu arah harga tiketnya 1,1 juta paling murah. Pada tahun kemarin, dengan harga segitu saya sudah bisa pulang-pergi naik pesawat ke nikahan teman saya di Padang. Bahkan lebih murah sedikit.

Karena kenaikan harganya yang tidak masuk akal bagi saya, akhirnya saya pun urung datang ke nikahan kawan saya itu. Mungkin kenaikan harga itu masih bisa ditoleransi jika saya pergi bukan untuk 1-2 hari saja di sana.

Dampak kenaikan harga ini tentunya akan lebih terasa bagi mereka yang domisili dan kampung halamannya berbeda pulau. Seperti kawan kantor saya yang orang tuanya tinggal di Ambon. Sekali naik pesawat sekarang minimal 2,5 juta. Pulang pergi sudah habis 5 juta.

Dengan harga yang sama sudah bisa dapat tiket ke Jepang dan sekitarnya PP. Akhirnya untuk urusan wisata orang lebih pilih ke luar negeri.

Tidak mengherankan apabila jumlah penumpang domestik menurun. Jumlah penerbangan pun juga turut berkurang.

Tapi rupa-rupanya, walaupun jumlah penumpang menurun, kalau menurut artikel ini, jumlah pendapatan maskapai malah meningkat karena naiknya tiket pesawat itu. Well, sepertinya bukan tidak mungkin fenomena ini masih akan terus bertahan untuk beberapa waktu ke depan dan bahkan seterusnya.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Daun caisim

Panen Mentimun dan Caisim Pertama

Alhamdulillah setelah genap 2 bulan sejak menanam benih mentimun, saya sudah bisa menikmati buah pertama yang dipanen. Pada awal Maret kemarin saya sudah bisa memetik satu buah mentimun.

Buah mentimun yang dipanen

Sayangnya hanya 1 buah yang hasilnya baik. Buah mentimun lainnya hasilnya tidak bagus. Buahnya tidak berkembang dengan baik dan bentuknya cacat. Setelah itu tak lama kemudian tanaman mentimun saya semuanya mati. Entah apa penyebabnya.

Salah satu buah mentimun yang cacat

Selain mentimun, saya juga mulai panen daun caisim. Alhamdulillah daunnya hijau dan lebar-lebar. Beberapa kali saya petik dan saya masak sebagai campuran mie rebus. Rasanya renyah.

Setiap kali dipetik, tumbuh daun-daun baru lagi yang hingga hari ini masih terus berlangsung. Alhamdulillah teman-teman kantor dan akang yang bantu bersih-bersih kantor juga bisa ikut menikmati hasilnya.

Daun caisim yang hijau dan lebar siap dipanen

Di dua bulan pertama hobi berkebun ini, saya jadi banyak belajar juga. Banyak tanaman saya yang tidak tumbuh dengan baik. Saya menduga karena faktor kurangnya cahaya matahari dan kadar air di dalam tanah yang terlalu tinggi.

baca juga: Mencoba Hobi Berkebun

Maklum, tanaman tersebut berada di tempat yang terhalang atap sehingga tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Selain itu, setiap kali hujan tanah di area tanaman tersebut tergenang air hujan.

Karena itu ketika menanam caisim dan tanaman lainnya saya segera cari area lain yang lebih mendukung. Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Perbedaannya jauh drastis.

Sekarang selain caisim, saya juga tengah menanam kangkung, tomat, dan cabai. Semoga bisa tumbuh dengan baik juga. Mungkin 1-2 bulan lagi akan kelihatan hasilnya.

Tanaman Mentimun

Mencoba Hobi Berkebun

Sekitar 2 bulan belakangan ini saya sedang asyik menggeluti hobi berkebun. Sejauh ini ada beberapa jenis benih tanaman yang sudah saya tanam. Ada bayam hijau, bayam merah, timun, tomat, cabai, pakcoy, dan caisim. Saya membeli benih-benih tersebut di toko online IPB Mart di sebuah website e-commerce.

Kenapa tiba-tiba kepikiran untuk berkebun? Jadi ceritanya sekitar 3 bulan yang lalu kantor saya baru saja pindah tempat. Di tempat yang baru ini pekarangannya luas banget dan cukup banyak tanah yang kosong juga.

Terus saya kepikiran untuk memaksimalkan lahan yang ada. Yakni, dengan menanaminya. Awalnya bingung mau menanam apa. Inginnya yang nantinya bisa dipanen dan bisa dimakan.

Saya pun browsing di situs-situs e-commerce mencari inspirasi benih apa yang banyak dijual dan tentunya harganya juga murah. Akhirnya saya menemukan lapaknya IPB Mart itu. Mereka menjual paket berbagai macam benih. Ya sudah saya beli di sana. Kebetulan ada bonus panduan menanam dan polybag juga.

Benih-benih siap disemai
Benih-benih siap disemai

Dari benih-benih yang saya beli itu, ada beberapa yang baru pertama ini saya menanamnya. Jadi perlu melihat-lihat panduan bagaimana menanam dan merawatnya.

Mau tidak mau saya memang jadi belajar cukup banyak hal. Mengingat-ingat kembali pelajaran Biologi di sekolah dulu. Hehehe.

Hal baru yang saya pelajari salah satunya adalah tentang pemupukan. Saya baru tahu kalau ada pupuk cair untuk daun dan buah. Jadi bukan hanya pupuk yang ditaburkan atau dicampur ke tanah. Jenis pupuk cair untuk daun ini cara pemakaiannya adalah dengan disiramkan ke daun, tepatnya di bagian bawahnya, karena pada bagian bawah daun itu terdapat stomata (mulut daun) yang dapat menyerap pupuk tersebut.

Hal lainnya yang saya pelajari adalah tentang lanjaran atau ajir. Saya baru tahu kalau tanaman mentimun perlu dibuatkan lanjaran agar ia bisa tumbuh tegak. Dalam pertumbuhannya ia akan mengeluarkan tangkai-tangkai yang akan diikatkan dengan sendirinya pada tali-tali lanjaran agar bisa menopang pertumbuhan batangnya.

Lanjaran untuk tanaman mentimun
Lanjaran untuk tanaman mentimun

Sungguh menyenangkan melihat tanaman yang kita tanam bisa tumbuh mulai dari benih kemudian membesar dari hari ke hari. Setiap kali saya suntuk dalam aktivitas bekerja di kantor, saya refreshing sejenak dengan jalan-jalan ke pekarangan mengamati tanaman-tanaman saya.

Saya mengamati dengan detail tanaman-tanaman tersebut, mendapati bagaimana ia yang kemarin masih berupa benih, sekarang sudah tumbuh kecambahnya. Bagaimana ia yang kemarin masih memiliki dua lembar daun, sekarang bertambah satu lagi dengan bentuk tulang daun yang berbeda dari dua daun sebelumnya

Bayam-bayam mulai berkecambah
Bayam-bayam mulai berkecambah

Mendapati bagaimana semakin hari batangnya tumbuh besar dan tinggi serta membentuk banyak cabang. Bagaimana bunganya yang kemarin mekar sekarang perlahan mulai layu dan bakal buah mulai tumbuh dari ujung batangnya.

Bakal buah mentimun
Bakal buah mentimun

Mungkin terdengar aneh, tapi entah mengapa selalu ada perasaan bahagia yang saya rasakan setiap kali mengamati pertumbuhan tanaman-tanaman saya itu. Ada perasaan bangga dan haru melihat tanaman yang saya tanam beberapa minggu lalu saat masih berupa biji sekarang sudah tumbuh besar dan mulai menghasilkan buah. 🙂