Covid-19 Diary (1) : Sudah 3 Minggu Work From Home

Terinspirasi dari tulisan berjudul For the Sake of History, Keep a Coronavirus Diary di Medium, saya mencoba untuk menuliskan diary mengenai situasi dan kondisi sekitar saya selama pandemi Covid-19 ini. Ada kalimat menarik dari tulisan tersebut yang saya pikir memang tepat sekali.

“What we’re often doing as historians or consumers of diaries is closing that distance between what we know now and what the person writing the diary knew then.”

Dalam memandang suatu peristiwa, biasanya akan terjadi gap pemahaman antara orang yang berada di luar peristiwa dan pelaku di dalam peristiwa. Sesama pelaku peristiwa saja sangat mungkin untuk memiliki perbedaan persepsi. Ketika mereka masing-masing bisa mengeluarkan opini dari perspektif mereka, di sanalah kita yang berada di luar bisa connecting the dots dan menarik kesimpulan atas peristiwa tersebut.

Pekerjaan memahami peristiwa di masa lampau tentunya secara logika akan lebih tricky karena terpisahkan oleh dimensi waktu. Kita tidak bisa bertanya langsung kepada pelaku peristiwa tersebut.

Karena itu keberadaan diary atau tulisan secara umum bisa menjadi sebuah legacy yang bermanfaat bagi generasi penerus nanti untuk memahami peristiwa di masa sekarang. Walaupun yang saya tulis ini juga cuma remah-remah saja sebetulnya.

Work From Home (WFH)

Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia telah melaporkan kasus pertama pasien Covid-19 pada 2 Maret 2020. Setelah itu terjadi eskalasi jumlah pasien hingga pada akhirnya pada hari Senin, 16 Maret 2020 banyak sekolah, universitas, dan instansi mulai menutup aktivitasnya. Para pelajar dan mahasiswa diminta untuk belajar dari rumah (Study From Home/SFH). Yang pekerja kantoran diminta untuk bekerja dari rumah (Work From Home/WFH).

Kantor saya termasuk yang menerapkan kebijakan WFH tersebut. Malam minggu tanggal 14 Maret diputuskan mulai Senin 16 Maret 2020 kami semua bekerja dari rumah.

Agak “apes” sih karena hari itu saya baru saja tiba di Bandung setelah cuti seminggu karena ada urusan di Malang. Ketika perjalanan balik ke Bandung, saya tidak memperkirakan akan muncul kebijakan ini dalam waktu dekat. Mungkin hal ini sebagai reaksi karena pada hari itu Kota Solo menerapkan lockdown menyusul meninggalnya pasien pertama covid-19 di Solo 3 hari sebelumnya.

Jika tahu situasinya akan seperti ini, mungkin saya akan tetap stay di Malang bersama keluarga. Qadarullah posisi saya saat itu sudah terlanjur kembali ke Bandung. Mau mudik pun selalu teringat kembali risiko terekspos virus di perjalanan yang akhirnya nanti bisa menjadi carrier bagi keluarga di rumah.

Namun hikmah lainnya, di Bandung saya ada akses internet yang cukup memadai. Kalau pulang ke Malang, saya cuma bisa mengandalkan kuota internet seluler saya yang tentunya tidak seberapa sehingga akan menghalangi produktivitas saya.

2 thoughts on “Covid-19 Diary (1) : Sudah 3 Minggu Work From Home

  1. DJ

    eh pendek je cerita nya?hahaha saya semangat mahu baca keadaan di sana dari kaca mata teman yang dikenali…hehehe pape pun kita sama sama doa ya semuanya akan berakhir segera…insyaAllah…

    sudah 3 minggu tak kerja, saya rasa saya sudah tidak produktif…hahaha sy bukannya orang yang boleh kerja dari rumah…kena di pejabat…hahaha!

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Kan saya mahu bagi menjadi beberapa part DJ. Sebab saya malas tulis panjang-panjang. Hahaha…

      Saya pun sebetulnya tak selesa kerja dari rumah. Kerana itu saya masih pergi ofis sekali-sekala.

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s