2D1N di Bandar Seri Begawan (Bag. 2): Tourist Attraction

 

Tidak banyak tourist attraction yang saya kunjungi dalam 2 hari di Bandar Seri Begawan ini. Selain karena faktor keterbatasan waktu, juga karena memang sejak awal saya ingin bersantai saja menikmati kota Bandar Seri Begawan yang tenang itu.

Apalagi, seperti yang sudah saya singgung di tulisan sebelumnya, saya memang tidak betul-betul mempersiapkan diri untuk traveling ke Brunei Darussalam ini. Hanya sedikit saja riset yang saya lakukan mengenai tourist attraction di Bandar Seri Begawan. Karena itu tidak banyak tempat yang saya kunjungi di sini

baca juga: 2D1N di Bandar Seri Begawan (Bag. 1): Transportasi & Akomodasi

Berikut ini adalah daftar beberapa tourist attraction yang sempat saya datangi.

1. Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin

Kalau kita googling “Brunei Darussalam”, lalu membuka tab gambar, di top hasil pencarian akan keluar foto-foto sebuah masjid dengan monumen perahu di depannya, itulah Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin. Masjid ini seolah menjadi ikon landmark dari Brunei Darussalam, sebagaimana Singapura dengan patung Merlionnya, Malaysia dengan menara Petronasnya, dan Indonesia dengan Monumen Nasionalnya.

Lokasinya ada di Pusat Bandar. Jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki beberapa menit saja dari tempat saya menginap (di Jubilee Hotel).

Seperti masjid-masjid ikonik di Malaysia, di masjid ini pun juga terbuka untuk turis-turis yang berkunjung. Pihak pengurus masjid menyediakan jubah-jubah yang harus dikenakan oleh pengunjung yang auratnya belum tertutup secara sempurna apabila ingin masuk ke dalam masjid.

Alhamdulillah, saya sempat ikut beberapa kali sholat berjamaah di sana. Tapi di sana brrr… dingin banget di dalam AC-nya. Nggak malam, nggak siang, AC-nya dingin banget. Orang-orang kok pada kuat ya. 😅

Btw, sedikit tips bagi mereka yang ingin mengambil foto Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin. Untuk mendapatkan angle seperti foto-foto populer yang ada di Google tersebut (dengan monumen perahu di depannya), kita perlu berjalan jauh mengitari kompleks luar masjid ke arah selatan.

Sayangnya saat saya ke sana sedang ada pekerjaan konstruksi di lokasi tersebut. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk mengambil foto dengan angle itu. Tapi angle yang lain juga tidak kalah cantiknya kok.

Masjid Sultan Omar Ali Saefuddin

Masjid Sultan Omar Ali Saefuddin

2. Kompleks Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah (YSHHB)

Kompleks YSHHB ini adalah sebenarnya sebuah pusat perbelanjaan di Bandar Seri Begawan. Namanya asyik ya, “Yayasan”. Saya nggak tahu juga sih kenapa dinamai seperti itu. Dari Masjid Sultan Omar Ali Saefuddin, kita tinggal menyeberang saja ke sini.

Bangunannya sendiri cukup unik. Kompleksnya terdiri atas 4 gedung yang saling berhadapan. Di tengahnya terdapat area terbuka yang cukup luas. Banyak food stall berjejer rapi di area tersebut.

Saya kurang tahu gedung tersebut tingginya ada berapa tingkat. Mungkin 4 lantai saja. Yang jelas saat saya mau naik entah ke lantai 3 atau 4, melihat eskalatornya mati dan agak berdebu, saya jadi mengurungkan niat naik ke atas. Entah sedang ada perbaikan atau gimana. Di lantai 2 sendiri tidak semua toko terisi.

Tapi di sinilah saya merasakan “keramaian” di Bandar Seri Begawan. Walaupun jika dibandingkan dengan mall yang ada di Indonesia ya kalah jauh ramainya. Selain lihat-lihat, di sana saya juga sempat menukar uang di money changer dan makan malam di Jollibee.

Kompleks YSHHB tampak dari Masjid Sultan Omar Ali Saefuddien di malam hari

Kompleks YSHHB tampak dari Masjid Sultan Omar Ali Saefuddien di malam hari

3. Kampong Ayer

Kampong Ayer (Kampung Air dalam bahasa Indonesia) adalah sebuah kawasan pemukiman penduduk yang berdiri di atas Sungai Brunei. Sejarah menyebutkan bahwa Kampong Ayer ini sudah ada sejak ratusan tahun, bahkan lebih dari 1000 tahun, yang lalu. Sebuah peradaban yang tidak bisa dibilang sebentar juga.

Tidak susah untuk pergi ke Kampong Ayer ini. Kampor Ayer ini terlihat jelas dari Masjid Sultan Omar Ali Saefuddin dan juga Kompleks YSHHB.

Dari sana kita tinggal berjalan kaki saja menuju waterfront. Di waterfront ini kita akan menemui sekitar belasan tukang perahu yang “mangkal” di atas perahunya masing-masing. Mereka menawarkan jasa untuk menyeberang ke Kampong Ayer, atau kampung lainnya yang juga berada di Sungai Brunei ini. Tarifnya 1 Dolar Brunei.

Kalau ingin mengelilingi kawasan perkampungan di Sungai Brunei ini juga bisa. Tentu saja dikenakan tarif yang berbeda. Kata salah seorang tukang perahu yang saya tanya, tarifnya adalah 10 Dolar Brunei per orang. Kalau jalan sendirian, kenanya lebih mahal lagi, yakni 20 Dolar Brunei per orang. Tentu saja itu masih negotiable.

Pemukiman tradisional di Kampong Ayer

Pemukiman tradisional di Kampong Ayer

Karena tanggung sudah sampai Brunei, saya pun merasa ada yang kurang kalau sampai melewatkan Kampong Ayer ini. Tidak ada wisatawan lain selain saya ketika itu. Ya sudahlah tidak masalah. Saya pun berkeliling sendirian di kawasan Kampong Ayer ini dengan menggunakan jasa perahu beliau.

Sepanjang perjalanan beliau bercerita banyak tentang kawasan Kampong Ayer ini. Beliau sendiri sebenarnya merupakan keturunan Sarawak. Kakeknya bermigrasi ke Kampong Ayer ketika masa perang. Sejak itu keluarganya menetap di sana.

Saya diajak menjelajahi ke berbagai sudut di kawasan Kampong Ayer ini. Kami menunjukkan Istana Nurul Iman yang membelakangi Kampong Ayer ini. Tak jauh dari situ ada satu batu besar di tengah Sungai Brunei ini yang disebut Jong Batu.

Menurut legenda masyarakat setempat Jong Batu itu adalah perwujudan anak durhaka yang dikutuk oleh ibunya menjadi batu. Persis dengan legenda Malin Kundang di Padang, Sumatra Barat.

Di Kampong Ayer ini selain pemukiman tradisional, juga terdapat beberapa kompleks perumahan modern yang dibangun Pemerintah Brunei Darussalam. Kata Bapak Tukang Perahu tersebut, harga rumah 2 tingkat yang dibangun pemerintah itu harganya adalah BND 90.000 setelah disubsidi. Sementara yang 1 tingkat, harganya BND 65.000.

Rumah tersebut bisa dikontrak juga per tahun. Jika sudah menempati rumah dalam masa 30 tahun, maka rumah tersebut bisa beralih menjadi milik sang penyewa.

Perumahan Modern di Kampong Ayer

Perumahan Modern di Kampong Ayer

Sebelum mengakhir tur Kampong Ayer ini, saya diantarkan ke Museum Kampong Ayer. Tidak ada biaya yang dikenakan untuk pengunjung museum ini. Malahan kita mendapatkan bonus pin bertuliskan “I ❤️️ Brunei” dan peta wisata Brunei Darussalam.

Petanya bermanfaat banget lho. Ada daftar tourist attraction mulai dari objek wisata, mall, restoran, dsb. Serta ada info bus apa saja yang melalui tempat-tempat tersebut.

Di Museum Kampong Ayer ini kita bisa mempelajari sejarah Kampong Ayer ini. Saya jadi tahu bahwa Kampong Ayer ini ternyata dahulu pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Brunei. Menarik ya. Pusat pemerintahannya didirikan di atas sungai.

Selain itu saya juga jadi tahu Kampong Ayer ini ternyata dijuluki sebagai “Venice dari Timur” (Venice of The East). Julukan tersebut disematkan oleh Antonio Pigafetta, pelaut Italia yang ikut bersama Ferdinand Magellan mengunjungi Brunei pada tahun 1521.

Museum Kampong Ayer

Museum Kampong Ayer

Setelah mengunjungi Kampong Ayer, saya kembali diantarkan ke waterfront dekat Kompleks YSHHB.

4. The Royal Regalia Museum

The Royal Regalia Museum ini lokasinya juga berada di Pusat Bandar. Bisa dicapai dengan berjalan kaki saja ke sana. Bangunannya sangat besar, megah, dan unik. Sangat mudah untuk mengenalinya dari kejauhan.

Sebelum masuk ke dalam, kita diharuskan untuk melepas sepatu atau sandal di depan pintu masuk museum. Setelah itu masuk mengisi buku tamu. Tas harus dititipkan pada loker yang sudah disediakan. Tidak ada biaya yang dipungut untuk menikmati museum ini.

The Royal Regalia Museum

The Royal Regalia Museum

Museum ini utamanya adalah menyimpan koleksi souvenir dan hadiah yang beraneka ragam pemberian dari berbagai tokoh pemerintahan negara lain. Ada buaaaanyaaak sekali koleksi beliau yang dipajang di sana. Salah satunya sempat saya lihat ada souvenir dari Sultan Hamengku Buwono berupa miniatur Candi Borobudur yang berukuran besar di sana.

Sayang sekali kita tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar terhadap koleksi-koleksi tersebut. Kita hanya boleh mengambil foto di hall utama museum saja.

Hall utama The Royal Regalia Museum

Hall utama The Royal Regalia Museum

Selain koleksi hadiah tersebut, di museum ini juga ada ruangan-ruangan yang menampilkan perjalanan hidup Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Mulai dari masa kanak-kanak hingga beliau menjadi pemimpin rakyat Brunei.

Termasuk diceritakan juga bagaimana pendidikan yang ditempuh oleh beliau. Terlihat sekali beliau sudah dipersiapkan dengan betul-betul sejak masa kecilnya untuk menjadi seorang sultan yang cakap dalam memimpin kelak.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “2D1N di Bandar Seri Begawan (Bag. 2): Tourist Attraction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s