Monthly Archives: June 2020

Penulisan “di” sebagai Kata Depan dan Imbuhan

Saya jadi gatal menulis topik tentang ini setelah melihat sebuah video di Instagram yang dibuat oleh seorang content creator. Di dalam video tersebut disertakan subtitle dari kata-kata yang diucapkannya.

Di dalam subtitle itu semua “di” yang seharusnya menjadi imbuhan dari kata kerja yang diucapkannya tertulis dalam kata tersendiri (dipisahkan oleh spasi). Contohnya kata “dibuat” ditulis menjadi “di buat” dan “dijadikan” menjadi “di jadikan”.

Di kesempatan lain saya pernah juga melihat kasus kebalikannya. Yakni kata depan “di” disambung dengan nama tempat yang berada setelahnya.

Kadang kepikiran. Apakah bahasa Indonesia sesulit itu ya untuk membedakan “di” sebagai kata depan dan imbuhan.

Mudah-mudahan setelah menulis ini saya tidak dianggap sebagai grammar nazi. Hehehe. Saya sendiri juga masih terus belajar untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Saya cukup mengapresiasi influencer seperti Ivan Lanin yang menurut saya cukup sukses meningkatkan kepedulian (utamanya) anak-anak muda terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Melalui twit-twitnya, beliau sering membagi trivia-trivia dengan contoh-contoh yang membuat belajar bahasa Indonesia itu mengasyikkan.

Gowes Sepeda yang Kembali Ngetren di Kala PSBB ini

Ada sebuah fenomena menarik beberapa minggu terakhir ini di Bandung. Khususnya sejak Lebaran kemarin. Di jalanan kini ramai sekali dengan pesepeda. Mereka umumnya bersepeda secara beramai-ramai dengan kelompok atau komunitasnya.

Bahkan pada hari Minggu minggu lalu, ketika saya tengah lari pagi di daerah Dago, saya berpapasan dengan rombongan pesepeda yang saking ramainya separuh jalan sampai dipakai oleh pesepeda. Memang salah satu destinasi para pesepeda ini biasanya daerah Dago ke atas sampai ke Warung Bandrek.

Cukup menarik menerka bagaimana fenomena gowes sepeda ini bermula. Dugaan saya sih aktivitas ini sudah mulai ngetren lagi ketika bulan Ramadan kemarin. Saya beberapa kali berpapasan juga dengan pesepeda saat jam-jam sore menjelang berbuka puasa.

Aktivitas bersepeda ini juga sempat didukung oleh banyaknya jalan yang ditutup dalam masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ini. Jalan Dago, Braga, dan Asia Afrika adalah jalan-jalan yang sempat ditutup ketika itu. Jalan-jalan itu kini sudah kembali dibuka untuk kendaraan seminggu setelah lebaran.

Jalan Asia Afrika yang sempat ditutup dari kendaraan ketika PSBB

Kosongnya jalan tersebut ternyata dimanfaatkan banyak orang untuk bersepeda. Banyak orang tua yang keluar bersepeda bersama anaknya yang masih kecil tanpa perlu khawatir terserempet kendaraan lain.

Fenomenar ngetrennya gowes ini dibuktikan juga oleh naiknya penjualan sepeda di Kota Bandung hingga 50% sebagaimana diberitakan di sini. Bagi mereka yang belum punya sepeda pasti merasa gatal juga ingin bergabung dengan kawan-kawannya untuk gowes bersama. Hehehe.

Fenomena ini tentunya sangat positif juga bagi masyarakat kita. Insya Allah dengan banyak yang bersepeda begini, akan terbentuk masyarakat yang sehat juga.

Bagaimana di kota Anda? Apakah fenomena bersepeda ini juga terjadi di kota Anda? 😀

Review Coursera: Stanford Introduction to Food and Health

Saya baru saja menamatkan kelas “Stanford Introduction to Food and Health” di Coursera. Kelasnya cukup singkat, yakni hanya 4 minggu saja. Itu pun setiap minggunya kita hanya cukup meluangkan waktu sekitar 30-60 menit untuk menonton video dan mengerjakan kuis yang berjumlah 5 soal saja.

Oh ya, ada tambahan minggu ke-5 untuk kelas memasak. Tapi itu tidak wajib sih. Lebih tepatnya bisa dibilang bonus video kali ya.

Singkatnya waktu kelas ini menjadi alasan saya mengambilnya. Lalu alasan kedua yang penting bukan kelas tentang IT. Soalnya saya juga tengah mengambil course IT lain yang saya ikuti dengan durasi yang lebih panjang dan memerlukan praktik. Jadi perlu sedikit selingan agar tidak berkutat di IT melulu.

Topik “Food and Health” juga cukup related dengan saya karena saya menaruh perhatian juga dengan makanan yang saya makan. Namun saya nggak bisa dibilang selalu makan makanan yang sehat juga sih. Saya jadi perhatian begini mungkin karena kebiasaan dari kecil selalu dinasehati ibu soal makanan yang saya makan.

Btw, kelas dari Stanford ini tidak bisa dibilang sebuah kuliah menurut saya. Kalau disebut Food and Health 101, kurang tepat juga karena materinya masih sangat basic. Mode kelasnya pun juga santai karena dikemas dengan video berupa obrolan antara Maya Adam — pengajar dalam kelas ini — dan Michael Pollan yang menjadi pakar yang dimintai penjelasan oleh Maya Adam.

Kalau diperhatikan, kelas ini sebenarnya lebih banyak berbagi tips atau nasehat yang mungkin sudah sering kita dengar sehari-hari soal makanan. Seperti soal mengurangi konsumsi gula, mengurangi konsumsi makanan olahan (processed food), memperbanyak konsumsi sayuran, dan makan secukupnya. Namun saya masih merekomendasikan kelas ini kok demi meningkatkan awareness kita terhadap kualitas makanan yang kita makan.

Ada beberapa highlight pengetahuan baru yang saya dapatkan setelah mengikuti kelas ini:

  • Menurut publikasi WHO tahun 2015, jumlah free sugar yang kita konsumsi sebaiknya tidak lebih dari 5% dari total kalori yang kita konsumsi per harinya. Per hari orang membutuhkan asupan sebanyak rata-rata 2000 kalori (Orang yang aktif secara fisik tentunya akan memerlukan jumlah yang lebih banyak daripada ini). Artinya konsumsi gula kita sebaiknya tidak lebih dari 100 kalori per hari. 100 kalori setara dengan 25 gram gula atau setara dengan 6 sendoh teh (1 sendok teh gula = 4,2 gram gula).
  • Madu ternyata juga termasuk ke dalam kategori free sugar. Gula yang kita dapatkan secara alami dari buah-buahan (kecuali yang sudah dijus) dan sayur-sayuran tidak termasuk. Wah, setelah ini saya harus memperhatikan juga takaran madu yang saya konsumsi per harinya.
  • Maya Adam memberikan tips untuk mengetahui sebuah makanan adalah processed food atau bukan. Makanan yang sehat tidak akan perlu label untuk menjelaskan kandungan nutrisinya. Di sisi lain makanan yang kemasannya dipenuhi dengan keterangan komposisi dan kandungan nutrisinya, umumnya menunjukkan bahwa makanan tersebut high atau over processed. Well, tampaknya tips ini sepertinya hanya bisa berlaku di supermarket saja. Tidak berlaku untuk snack-snack yang kita jumpai di pinggir jalan. Hehehe.
  • Bagaimana kita mengonsumsi makanan umumnya juga tidak lepas dari faktor kultur juga. Di Amerika (dan masyarakat dunia pada umumnya) obesitas menjadi suatu fenomena di kehidupan modern saat ini. Dalam kultur mereka, mereka mengatakan “I’m full” (saya kenyang) ketika berhenti makan. Sementara di Perancis, mereka mengatakan “Je n’ai faim” (saya tidak lapar lagi) ketika berhenti makan. Kelihatan perbedaannya kan?
  • Michael Pollan juga sempat menyebutkan tradisi di negara lain pandangan soal proporsi makanan yang dikonsumsi. Menariknya ia sempat mengutip Qur’an soal jangan makan makanan berlebihan ini. Hanya saja yang saya pahami Qur’an tidak menyebut angka definitif 2/3 ini. Setahu saya itu dari sabda Nabi Muhammad yang menyebutkan bahwa kapasitas perut kita ini 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk air, dan 1/3 untuk udara. Mungkin 2/3 itu diambil dari hadits Nabi itu kali ya (untuk makanan dan air).
Screenshot from Coursera: Stanford Introduction to Food and Health

Light Sleeper

Saya baru tahu ternyata ada istilah untuk menyebut orang yang mudah bangun. Light sleeper istilahnya. Saya tidak tahu apakah ada padanan serupa dalam bahasa Indonesia.

Saya mengetahui istilah ini dari film Knives Out (2019). Di film tersebut salah seorang karakternya diceritakan merupakan seorang light sleeper. Ia menjadi salah satu saksi dalam kasus pembunuhan yang menjadi fokus utama cerita film tersebut di mana ia secara kebetulan terbangun saat tengah malam karena mendengar suara berisik.

Dari dulu sebetulnya saya sudah penasaran dengan istilah untuk menyebut orang dengan kebiasaan mudah terbangun ketika tidur itu. Sebab saya merasa memiliki kebiasaan serupa. Saya cukup sensitif dengan suara ketika tidur.

Contohnya saya tidak bisa tidur (dengan pulas) dalam keadaan TV atau radio masih menyala. Saya mungkin bisa tertidur selama 1 jam pertama. Namun jika lebih dari itu TV atau radio masih menyala (dengan volume sekecil apapun), besar kemungkinan saya akan kembali bangun dalam rentang 1 jam berikutnya.

Dan ketika terbangun itu, rasanya pusing sekali. Makanya biasanya saya berikan timer agar perangkat tersebut dapat mati secara otomatis.

Tidur nyenyak saat tahun baru atau malam lebaran dan sebagainya juga hampir mustahil bagi saya karena pada malam itu biasanya akan banyak yang menyalakan petasan. Saya pernah mencoba tidur cepat sekitar jam 10 malam, namun sudah terbangun ketika memasuki jam 11-an malam.

Tapi alhamdulillah sensitifitas terhadap suara ini ada manfaatnya juga bagi saya. Saya jadi tidak perlu mengandalkan alarm untuk membangunkan saya dari tidur. Suara adzan subuh (dan juga adzan awal yang jam 3 pagi) sudah bisa membuat saya terbangun.

Btw, soal subuh ini memang yang terberat bukan masalah bangunnya. Saya yakin sebenarnya setiap orang pasti akan mudah terbangun juga saat ada adzan ini. Sebab pada jam-jam ini harusnya jam biologis kita sudah mengajak untuk bangun kecuali yang tidurnya sangat larut. Hanya tinggal masalah kuat-kuatan dorongan untuk bangkit dari tempat tidur setelahnya itu saja. 😀

Selain sensitif terhadap suara, saya juga sensitif terhadap cahaya terang ketika tidur. Entah kenapa tidur dalam keadaan lampu menyala membuat saya lebih mudah terbangun setiap saat. Kualitas tidur saya jadi berkurang sekali. Saya baru bisa tidur pulas jika lampu dimatikan.

Mungkin hal-hal yang saya alami ini masih termasuk normal kali ya. Sebab, kalau membaca artikel ini, kebiasaan light sleep ini ternyata ada banyak macam penyebabnya. Ia bisa timbul karena dipicu persoalan lain seperti kebanyakan kafein, stress, kecemasan, sleep disorder, dan lain-lain.

Alhamdulillah sejauh ini sih tidak bermasalah dengan tidur. Kalau penyebab-penyebab tadi sepertinya lebih mengarah ke insomnia kali ya. Pernah sih mengalami sekali dua kali. Tapi alhamdulillah bukan sesuatu yang menjadi kebiasaan terus-menerus.