ranu kumbolo jernih

Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo (Bagian 3-Tamat): Menikmati Ranu Kumbolo

Minggu, 8 Mei 2016. Suhu Ranu Kumbolo subuh itu terasa cukup dingin. Namun kondisi itu tak menghalangi para pendaki yang berkemah di Ranu Kumbolo ini untuk bangun lebih awal demi menyaksikan matahari terbit pagi itu.

Berangsur-angsur ratusan pendaki memadati garis tepi Ranu Kumbolo. Mereka berdiri berjajar menantikan sunrise di Ranu Kumbolo ini. Beberapa orang tampak sibuk memasang tripod dan melakukan pengaturan terhadap kamera mereka.

Niat awal saya dan Listi yang ingin menyaksikan sunrise dari depan tenda — tenda kami hanya berjarak 5 meter saja dari tepi Ranu Kumbolo — pun urung terlaksana. Pemandangan kami terhalang oleh keramaian orang-orang itu.

Kami pun memutuskan pergi mencari tempat yang agak sepi. Setelah tenda kami kunci, kami pergi menjauhi kerumunan. Kami berjalan menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Dari tempat tersebut saya bisa menyaksikan dengan leluasa ke arah bukit di ujung Ranu Kumbolo yang menjadi tempat munculnya matahari dari peraduannya. Ratusan tenda yang memenuhi Ranu Kumbolo ini pun juga tampak jelas dari tempat saya berdiri itu.

sunrise ranu kumbolo

Sunrise di Ranu Kumbolo

Kami duduk-duduk menikmati sunrise dari tempat itu hingga posisi matahari berada agak tinggi. Menyembul dari sela-sela dua bukit di ujung timur Ranu Kumbolo itu.

sunrise rakum

Matahari menyembul di antara 2 bukit

Waktu menunjukkan pukul 6.30. Kami kembali turun menuju tenda. Sesampainya di tenda kami mulai mempersiapkan peralatan memasak kami. Juga bahan-bahan makanan.

Kami berbagi tugas. Saya mencuci peralatan makan dan masak yang kotor bekas semalam. Listi memasak sarapan kami pagi itu.

masak di tenda

Menggoreng tempe

Sangat simpel sih menu kami. Menu kami pagi itu adalah tempe goreng dan kentang goreng. Digado pakai saos, nggak pakai nasi. Itu aja sudah kenyang. Nggorengnya seabreg soalnya. Hahaha.

Habis sarapan perut kok terasa nggak enak. Sebenarnya sudah dari malam kemarinnya sih. Tapi (maaf) perasaan kebelet bangetnya baru saat itu. Untungnya di Ranu Kumbolo sekarang sudah tersedia toilet (jamban) umum. Jadi nggak perlu susah-susah nggali lobang lagi.

Sialnya pagi itu yang memperoleh panggilan alam nggak cuma saya. Ada banyak pendaki lain yang memiliki problematika serupa. Jamban yang posisinya dekat shelter Ranu Kumbolo lumayan panjang juga antriannya.

Saya pun memutuskan untuk berjalan beberapa ratus meter ke camping ground di sisi utara Ranu Kumbolo yang berdekatan dengan Pos 4. Di sana lebih sepi antriannya. Cuma ada 2 orang sebelum saya. Maklum, cukup sedikit pendaki yang mendirikan tenda di daerah situ.

jamban rakum

Toilet umum dekat Pos 4

Tentu saja jangan mengharap macam-macam di sana. Nggak ada kran air, flush, gayung, ember, atau semacamnya. Jadi jangan lupa bawa air atau tissue sendiri ya. “Buang”-nya pun harus dipaskan ke lobang yang sudah disiapkan ya. Jangan seenaknya. Kalo nggak begitu, ntar kasihan orang berikutnya yang harus berhadapan dengan harta karun Anda. 😜

Kemudian saya kembali ke tenda. Begitu keluar dari jamban dan melihat pemandangan di depan, saya bergumam… wah cakep juga ya pemandangan Ranu Kumbolo dari sini.

tenda di rakum

Pemandangan yang terlihat setelah keluar dari jamban

Sesampainya di tenda, saya langsung mengajak Listi untuk keluar. Kami jalan-jalan menuju Oro-Oro Ombo melewati Tanjakan Cinta. Di sana aktivitas kami ya cuma duduk-duduk santai menikmati pemandangan yang indah ini. Pemandangan dan suasana yang tentu saja tidak akan mungkin kami dapatkan di kota. Tenang rasanya. Tidak ada keriuhan.

tanjakan cinta

Mendaki Tanjakan Cinta

 

memandang oro-oro ombo

Menikmati Oro-Oro Ombo

rakum

Ranu Kumbolo

Pukul 10 pagi kami kembali turun menuju tenda. Kami bersantai-santai di dalam tenda, tiduran, sambil mengobrol ngalor-ngidul. 

Cuaca di Ranu Kumbolo saat itu cukup susah ditebak. Ada kalanya sinar matahari menyengat banget, terus beberapa menit kemudian berubah menjadi sejuk dan angin dingin berhembus. Setelah itu, balik lagi sinar matahari terasa panas. Dan begitu seterusnya.

Ngobrol ngobrol ngobrol… tanpa terasa kami terlelap. Walaupun merem-melek merem-melek sih. Tapi suasananya memang enak buat tiduran. Hahaha.

Menjelang pukul 1 siang kami bangun untuk beres-beres tenda dan perlengkapan kami. Cuaca agak sedikit mendung kala itu. Sekeliling kami yang sebelumnya terdapat banyak tenda berhimpitan, sudah menghilang entah ke mana. Yup, mereka sudah pada cabut meninggalkan Ranu Kumbolo. Hari itu memang hari terakhir libur long weekend. Tak heran banyak pendaki yang pulang hari itu.

pendaki packing

Beberapa pendaki tersisa tampak tengah membereskan tenda

Saat kami tengah packing barang-barang kami, hujan gerimis turun, dan makin lama makin deras. Untungnya ketika hujan deras benar-benar turun, kami sudah selesai mengepaki barang-barang kami ke dalam ransel. Kami pun berteduh di dalam shelter Ranu Kumbolo.

Pukul 2 siang hujan sudah agak reda. Hanya rintik-rintik kecil saja. Kami memutuskan untuk cabut saat itu juga. Karena jika menunggu lebih lama lagi, kami bakal kemalaman sampai di Ranu Pani.

Banyak pendaki yang turun ke Ranu Pani siang itu. Oleh karenanya, trek menuju Ranu Pani ini cukup padat juga oleh para pendaki. Sempat macet di turunan curam menjelang Pos 3. Maklum, tanah dalam kondisi yang cukup licin setelah turun hujan. Para pendaki turun dengan sangat berhati-hati. Saya menghitung ada 20 menitan kami membutuhkan waktu untuk mengantri melewati turunan menuju Pos 3 itu.

turunan ke pos 3

Turunan menuju Pos 3

Selepas dari Pos 3, trek menjadi agak lengang, tidak serapat sebelum Pos 3. Kami pun bisa berjalan dengan cepat. Total kami menempuh perjalanan turun dari Ranu Kumbolo ini dalam waktu 2,5 jam. Kami berjalan terus dari Ranu Kumbolo hingga Ranu Pani tanpa singgah di pos.

Sesampainya di Ranu Pani, kami langsung menuju ke pos lapor pendakian untuk menyerahkan kembali SIMAKSI kami. Setelah itu sholat jama’ Dhuhur dan Ashar di mushola dekat kantor TNBTS Ranu Pani.

Usai sholat, kami berjalan menuju area parkir pengunjung Ranu Pani. Di sana juga sudah menunggu jeep-jeep dan truk yang siap mengangkut para pendaki yang hendak turun ke Tumpang. Semua jeep dan truk kompak mematok tarif Rp650.000 untuk perjalanan ke Tumpang ini.

Saya dan Listi bergabung dengan beberapa rombongan lain sehingga total ada 10 orang yang sepakat untuk patungan. Ongkos sebesar Rp650.000 itu pun kami bagi ber-10.  Perjalanan turun ke Tumpang ini jauh lebih cepat dibandingkan naiknya (ya tentu saja, haha). Cukup 1 jam saja perjalanan dari Ranu Pani ke Tumpang ini kami tempuh.

Well, short escape yang cukup untuk refreshing dari kejenuhan di kota. Agak sayang sih karena nggak kesampaian naik ke puncak Mahameru lagi. Tapi benar-benar puas lah bisa nyantai-nyantai di Ranu Kumbolo. 😄 (tamat)

2 thoughts on “Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo (Bagian 3-Tamat): Menikmati Ranu Kumbolo

    1. otidh Post author

      Mostly udah bagus mas jalannya. Yg rusak itu mulai dari pertigaan Jemplang (pertigaan ke arah Bromo + Semeru) sampai Desa Ranu Pani. Itu nggak lebih dari 1/4 panjang jarak Tumpang-Ranu Pani sepertinya. Kurang tahu juga sih mas.

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s