Central Asia

[Book] Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah

Judul : Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah
Penulis : Agustinus Wibowo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : April 2011
Tebal : xiv + 510 halaman

Selama ini negeri-negeri Asia Tengah seperti terkesan menyimpan penuh misteri. Jarang sekali negeri-negeri di sana menghiasi pemberitaan media massa internasional.

Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Negeri-negeri yang membentuk gugusan negara dengan nama berakhiran “Stan” ini juga bukan merupakan destinasi mainstream para backpacker atau traveller. Tak banyak orang yang berpergian ke sana.

Garis Batas

Garis Batas

Di dalam buku ini kita akan dibawa bertualang bersama Agustinus Wibowo menyingkap negeri-negeri Asia Tengah yang misterius itu. Perjalanan yang dilakukan Agustinus bukanlah perjalanan mainstream ala turis yang mengunjungi objek-objek wisata.

Dalam perjalanan yang dilakukannya, Agustinus banyak berinteraksi dengan penduduk lokal. Tak jarang Agustinus diundang oleh warga lokal untuk sekedar berkunjung atau bahkan menginap di tempat tinggal mereka. Melalui mata Agustinus kita seolah bisa ikut menyaksikan pahit manisnya kehidupan yang mereka alami. Menyaksikan kebahagiaan yang mereka rasakan ketika mereka tengah mengadakan pesta pernikahan atau perayaan hari besar agama atau nasional.

Negeri-negeri Asia Tengah ini sejatinya memiliki peradaban dan khazanah tradisi yang sangat kaya. Dahulu kala ketika tanah mereka belum terbagi-bagi menjadi negeri-negeri, mereka adalah bagian dari kemilau peradaban Jalur Sutra. Bekasnya masih dapat disaksikan hingga sekarang. Mereka adalah penghasil permadani-permadani dengan motif yang indah. Permadani dahulu merupakan salah satu komoditas populer dalam perdagangan Jalur Sutra.

Lalu ketika datang Islam kepada mereka, negeri-negeri itupun menjadi tempat lahirnya ilmuwan-ilmuwan, pujangga-pujangga, dan ulama-ulama berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam. Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Ferdowsi, Imam Bukhari adalah di antara tokoh-tokoh tersebut.

Kemudian datanglah masa di mana mereka menjadi bagian dari sebuah negeri adidaya Uni Soviet. Di bawah Uni Soviet, suku bangsa-suku bangsa di Asia Tengah ini yang awalnya merupakan bangsa nomaden “dirumahkan” ke dalam tanah-tanah yang sudah ditentukan, terpisahkan oleh garis-garis batas.

Di kemudian hari garis-garis batas itu menjadi petaka bagi mereka yang “tersasar” di tanah “bangsa lain” ketika negeri-negeri itu merdeka menyambut robohnya Uni Soviet. Perlakuan diskriminasi pun mereka alami. Parahnya mereka bahkan juga tak diizinkan bebas pergi ke mana-mana. Kewarganegaraan sebagian orang-orang suku bangsa yang salah negeri ini tak diakui. Mereka terkurung dalam wilayah yang digariskan penguasa.

Sepeninggal Uni Soviet itu sendiri, pengaruhnya ternyata tak benar-benar dapat dilepaskan. Negeri-negeri tersebut memang berusaha melepaskan diri dari bayang-bayang Uni Soviet. Di antaranya berusaha menjadikan bahasa asli bangsanya sebagai bahasa nasional. Namun kenyataannya bahasa Rusia tetap tak dapat dipisahkan karena bahasa tersebut yang justru menjadi bahasa “persatuan”. Salah satu peninggalan tradisi Rusia yang masih melekat di kehidupan penduduk negeri-negeri itu adalah tradisi minum Vodka. Padahal sebagian besar penduduk di sana adalah muslim.

Membaca buku ini sungguh mengasyikkan. Mengikuti petualangan tak biasa yang dilakukan oleh Agustin sungguh seru. Bernostalgia dengan peradaban Jalur Sutra, Islam, dan Uni Soviet di sana. Juga menyelami kehidupan negeri-negeri itu setelah merdeka dari Uni Soviet. Bagaimana kehidupan berjalan di negeri-negeri itu. Merasakan kepedihan Tajikistan yang hidup di bawah garis kemiskinan, kehangatan khas bangsa Timur ala Kirgizstan, glamornya kehidupan di Kazakhstan, Uzbekistan yang masih mempertahankan peninggalan peradaban masa lalu, dan Turkmenistan yang terisolasi dan hidup dengan panduan “kitab” Ruhnama yang dikarang pemimpinnya.

Misteri yang selama ini seolah menyelimuti negeri-negeri Asia Tengah itu pun sedikit terkuak. Agustinus juga menyelipkan sejumlah foto yang apik di setiap negara yang dikunjunginya sehingga membantu kita dalam mengimajinasikan cerita-ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s