Mengikuti Kajian NAK – Reconnect with Quran

Sepuluh hari menjelang bulan Ramadhan yang lalu (6/5) alhamdulillah saya mengikuti kajian ustadz Nouman Ali Khan (NAK) di Masjid Istiqlal, Jakarta. Sebuah kesempatan yang saya syukuri karena saya bisa secara langsung menyimak kajian beliau setelah selama ini mungkin hanya berkesempatan mengikuti melalui media internet saja.

Karena itu begitu mengetahui informasi bahwa komunitas Nouman Ali Khan (NAK) Indonesia berencana menghadirkan ustadz NAK ke Indonesia, saya pun dengan antusias segera mendaftarkan diri dalam kajian tersebut. Apalagi ini adalah kunjungan perdana beliau ke Indonesia.

Bagi yang belum tahu, ustadz Nouman Ali Khan ini adalah seorang ustadz yang berdomisili di Amerika Serikat dan merupakan pendiri Bayyinah Institute. Ustadz Nouman Ali Khan dikenal di kalangan komunitas muslim sebagai seorang ustadz yang memiliki spesialisasi dakwah dalam mengajarkan Al-Qur’an dari sudut pandang linguistiknya.

baca jugaBelajar Al-Qur’an di Bayyinah TV

Hari itu kajian ustadz NAK mengangkat tajuk “Reconnect with Quran” dan terbagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama berlangsung mulai pukul 14.00 hingga menjelang sholat Ashar. Sesi kedua berlangsung pukul 16.00 sampai sekitar pukul 17.15. Dalam tulisan ini saya mencoba merangkum materi yang disampaikan oleh ustadz NAK dalam kedua sesi tersebut.

Ustadz NAK memulai kajian dengan mengangkat kisah Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS adalah seorang Nabi yang cukup ‘spesial’ karena banyak sekali do’a-do’a beliau yang terekam di dalam Al-Qur’an dibandingkan Nabi-Nabi yang lain.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, Nabi Ibrahim hidup di sebuah kaum yang menyembah berhala. Bahkan termasuk ayahnya sendiri. Sesuatu yang tidak masuk akal bagi beliau. Di tengah kegelisahan itu, beliau kemudian melakukan sebuah proses perenungan mengenai penciptaan dan bertanya-tanya mengenai siapa ‘Rabb’ sesungguhnya. Buah perenungan mengenai perenungan tersebut terekam dalam Al-Quran:

[78] (Dialah Rabb) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberiku petunjuk. [79] dan Yang memberi makan dan minum kepadaku. [80] dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku. [81] dan yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). [82] dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. (QS. Asy-Syu’ara: 78-82)

Dalam ayat tersebut tersurat bahwasannya Nabi Ibrahim memahami bahwa Allah tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga memberikan petunjuk bagaimana menjalani kehidupan.

Entah kita sadari atau tidak, setiap manusia sesungguhnya dalam hidupnya pasti pernah mendapatkan petunjuk (hidayah) itu. Namun kembali kepada setiap manusia apakah ia menyambutnya atau malah mengingkarinya. Karena itu dalam setiap do’a kita perlu untuk selalu memohon kepada Allah agar selain senantiasa diberikan hidayah, kita juga memohon agar senantiasa diberi kekuatan untuk menjalankan apa yang menjadi petunjuk-Nya itu.

“Every human being gets a chance for guidance. But not everybody can get the second chance.” ~Ustadz NAK

“Guidance means you know what to do. But it doesn’t mean you automatically have the strength to do it.” ~Ustadz NAK

Di ayat selanjutnya setelah itu (QS. Asy-Syu’ara 83-89), Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah. Salah satunya agar beliau dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang shaleh dan memohon ampunan kepada Allah untuk ayahnya.

[83] Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. [84] dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. [85] dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan. [86] dan ampunilah ayahku, karena sesungguhnya ia termasuk golongan orang-orang yang sesat. [87] dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. [88] (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. [89] kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS. Asy-Syu’ara: 83-89)

Ustadz NAK menekankan bahwasannya kita semua bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Tidak ada yang bisa menolong kita di hari pembalasan kelak. Doa anak-anak kita pun tidak akan ada artinya jika diri kita sendiri ingkar terhadap Allah.

“The day of judgement is the day when money and children is no good. Even Ibrahim who’s a prophet is not good enough to save his father in the judgement day.” ~Ustadz NAK

Di hari pembalasan kelak, setiap orang hanya akan memikirkan dirinya sendiri. Kita tidak akan mengurusi orang lain. Bahkan tak akan terbersit pemikiran sedikit pun dalam diri ini berharap orang yang pernah menyakiti kita di dunia akan mendapatkan balasan setimpal.

Kemudian dalam sebuah do’a lainnya yang juga diabadikan oleh Qur’an, yakni ketika beliau selesai membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail AS, beliau dan Nabi Ismail berdo’a agar dikaruniai keturunan (seorang Nabi) yang menjadi penerusnya dalam menyampaikan risalah Allah SWT.

Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah: 129)

Yang terjadi berikutnya, sebagaimana kita telah ketahui, setelah ribuan tahun (menurut riwayat ada 30 generasi), do’a Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut baru dikabulkan oleh Allah SWT. Dari garis keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Ismail hanya ada seorang Rasul saja, yakni Nabi Muhammad SAW. Padahal dari garis keturunan Nabi Ishaq AS, anak Nabi Ibrahim yang lain, selalu terlahir seorang Nabi demi Nabi di setiap keturunannya.

Turunnya Al-Qur’an pun juga merupakan jawaban Allah atas do’a Nabi Ibrahim tersebut. Allah menurunkan Al-Qur’an melalui Nabi Muhammad SAW, yang kemudian disampaikan kepada umat beliau dan sampailah kepada kita. Karena itu, janganlah kita sia-siakan Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada kita, yang untuk diturunkannya diperlukan waktu ribuan tahun sejak permohonan do’anya.

Al-Qur’an ada di mana-mana. Kita dikaruniai Allah berupa lidah untuk membacanya, dikaruniai telinga untuk mendengarnya, dan dikaruniai otak untuk menghafalnya. Namun, sejatinya yang utama adalah bagaimana kita menggunakan hati yang dikaruniai Allah ini agar bisa tersambung dengannya.

Permasalahan yang umum terjadi pada setiap orang, entah dia orang awam, mualaf, ataupun seorang ulama, adalah adanya jarak antara hati mereka dengan Al-Qur’an. Hati adalah tempat segala rasa. Perasaan antusias, gembira, cinta, takut, sedih, marah, dan sebagainya itu terdapat di dalam hati.

Adakah kita mampu menghadirkan perasaan-perasaan itu ketika membaca atau mendengar Al-Qur’an?

Karena itu penting bagi kita untuk selalu memelajari Al-Qur’an. Satu hal yang kita mungkin sering lupa, Al-Qur’an diturunkan untuk kita. Allah berkomunikasi dengan kita. Selayaknya sebuah percakapan, sepatutnya terjadi dua arah. Do’a adalah cara terbaik bagi kita untuk berkomunikasi dengan Allah.

“The best connection through Allah is through du’a.” ~Ustadz NAK

Al-Qur’an sendiri setiap ayatnya adalah do’a. Bahkan, ayat “Alif Laam Miim” saja adalah sebuah do’a. Hikmahnya adalah: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui dan hamba tidak tahu. Untuk itu, tunjukilah hamba kepada hal-hal yang harus hamba ketahui dan jauhkanlah dari obsesi untuk mengetahui hal-hal yang tidak penting untuk hamba ketahui.”

Dari situ kemudian kita pun juga bisa mengambil hikmah yang lain. Yakni pentingnya berdo’a dengan penuh kerendahan hati. Itulah syarat utama untuk bisa terhubung dengan Allah.

“Even Alif Laam Miim is a dua. You know, and I don’t know. Please guide me to know what I need to know.” ~Ustadz NAK

Karena itu momen Ramadhan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk giat memelajari Al-Qur’an. Allah menjelaskan mengenai taqwa dan sholat di berbagai surat dan ayat di dalam Al-Qur’an. Tapi, khusus untuk Ramadhan hanya ada di satu tempat saja, yakni Surat Al-Baqarah di mana Allah justru menjelaskan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an bukan sebagai bulan puasa.

Ramadhan ini juga hendaknya menjadi kesempatan bagi kita untuk menjadi perantara bagi orang dekat kita yang belum dekat dengan Al-Qur’an. Janganlah kita gunakan ayat Al-Qur’an untuk menghakimi atau menyakiti hati mereka. Hal itu justru akan membuatnya menjauh dari Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah sebuah rahmat. Allah menurunkannya dengan rahmat. Karena itu, hendaknya kita menyampaikannya kepada orang lain dengan rahmat pula.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s