What’s Next?

Tak terasa sekarang sudah memasuki bulan ketiga di tahun 2013. Sudah 24 tahun aku menjalani hidup di dunia ini. Wow, waktu berlalu begitu cepat.

Kadang-kadang aku teringat seorang sahabat yang telah meninggal dunia ketika aku masih berada di SMA, dan juga beberapa teman sekolah lainnya yang lebih dahulu dipanggil oleh-Nya. Karena itu aku selalu bersyukur bahwasannya telah diberikan kesempatan menghirup udara di dunia hingga sejauh ini.

Lalu apa saja yang sudah kuperbuat hingga sejauh ini? What have I been through over the years? Terkadang memang aku suka melihat ke belakang apa yang sudah kulakukan, apa yang sudah tercapai, apa yang belum tercapai, dan apa yang ingin aku capai di masa yang akan datang.

What keeps me going is goals.” Begitulah kata Muhammad Ali, petinju legendaris dari Amerika Serikat. Ya, untuk tetap menjalani hidup dengan penuh ‘semangat’ diperlukan adanya gol-gol yang ‘harus’ kita capai. Jika tak ada gol yang ditargetkan, semua akan berjalan sebagai rutinitas biasa. Dan menurutku gol itu tak harus selalu sesuatu yang besar, tapi hal-hal yang kecil pun juga bisa jadi.

Tak kupungkiri banyak hal yang belum tercapai. Ada cukup banyak pula yang meleset. Terkadang memang ada penyesalan karena tak mungkin mencapainya lagi karena waktu tak mungkin bisa diputar ke belakang. Kalau sudah begitu, memang sudah seharusnya untuk move on. Menyusun lagi gol di masa yang akan datang.

So, what’s next? Keinginan untuk mengambil master (terutama di luar negeri) masih ada. Namun, itu belum menjadi prioritas yang mendesakku. Meningkatkan skill dalam bidang yang sedang aku geluti sambil mengamati peluang beasiswa master yang bisa kuambil dan mencoba menemukan sub bidang di Informatika yang menarik untuk kuajukan sebagai proposal master nantinya.

Di samping itu aku merasa ini sudah saatnya mencari the one. Insya Allah aku mulai berikhtiar untuk itu. Semoga bisa menyegerakan untuk yang satu itu. Bismillah. :)

Jadilah Seorang Musafir

وعن ابن عمر – رضي الله عنهما- قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم بمنكبي فقال: كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل وكان ابن عمر – رضي الله عنهما – يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)

Beberapa hari yang lalu saya sempat merenung mengenai makna dan perjalanan “waktu” dalam kehidupan ini. Kemudian saya mencari-cari artikel di internet mengenai pandangan terhadap waktu di dalam Islam hingga akhirnya menemukan hadits yang saya quote di atas.

“Jadilah seperti seorang musafir.”

Itulah potongan nasehat yang diberikan Nabi SAW kepada Ibnu Umar RA dalam hadits di atas. Rasulullah begitu indah menggambarkan analogi bagaimana kita seharusnya memperlakukan waktu yang kita punyai. Ya, gunakan filosofi seorang musafir.

Melalui hadits itu pula Rasulullah mengingatkan kita agar kita selalu mempersiapkan diri dalam menghadapi kehidupan di dunia ini. Seorang musafir atau pengembara yang hendak atau tengah melakukan perjalanan jauh, sebelumnya akan menyiapkan perbekalan terlebih dahulu. Kita pun demikian. Hidup ini hanya sementara, dan dunia ini hanyalah persinggahan sementara manusia sebelum sampai ke kehidupan yang sesungguhnya.

Layaknya seorang pengembara pula, dalam perjalanan mencapai tujuan sesungguhnya itu, ia juga harus singgah di beberapa tempat yang ia lalui untuk mencapai tujuan akhirnya. Bagi seorang muslim, tujuan akhirnya adalah surga sebagai tempat tinggal abadinya.

Dalam hidup di dunia ini pun demikian. Masing-masing dari kita pasti mempunyai target atau impian dalam hidup ini. Menjadi dokter, dosen, presiden, berumah tangga, punya keturunan, dan lain-lain. Aku menyebutnya dengan “tujuan antara”, bukan “tujuan akhir” atau “tujuan hakiki”. Tujuan antara ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk dijadikan sebagai bekal mencapai “tujuan akhir”.

Jadilah seorang dokter, dosen, presiden, kepala rumah tangga, ayah yang memiliki pola sikap Islami (nafsiyah Islamiyah), keimanan, ketakwaan, dan keikhlasan pada Alloh. Setiap hembusan nafas yang keluar dan perbuatan yang dilakukan adalah karena Alloh. Amal itulah yang akan tercatat sebagai bekal kita kelak.

Selain itu, Hadits di atas juga mengingatkan kita agar selalu memanfaatkan waktu yang tersedia dengan sebaik-baiknya. Jangan suka menunda-nunda waktu. Pekerjaan yang bisa kita kerjakan sekarang, kerjakan saat itu juga. Hargai waktu yang kita punya. Selagi sehat, Selagi punya waktu lapang, berbuatlah sesuatu yang bermanfaat untuk mencapai tujuan-tujuan kita itu. Apabila sakit sudah datang, akan sulit untuk melakukan sesuatu.

Dengan memahami filosofi seorang musafir, mudah-mudahan kita bisa semakin menghargai waktu yang kita punya.

The Power of Deadline

Ilustrasi

Ilustrasi

Entah kenapa tiba-tiba saya ingin menulis tentang hal ini. Mungkin karena saya baru saja dan sedang menghadapi beberapa deadline tugas kuliah.

Saya sungguh penasaran kenapa setiap kali mengerjakan suatu tugas dan dekat dengan deadline, tiba-tiba ada semacam kekuatan pada diri ini. Kekuatan yang membuat saya melakukan pekerjaan dengan lebih cepat. Akan tetapi, di balik kekuatan itu ada pressure tinggi yang dirasakan, membuat diri ini tak ingin melakukan hal lain selain terus mengerjakan, dan terus mengerjakan. Bahkan, makan pun mungkin bisa dilupakan untuk sementara. Saya pun penasaran dibuatnya.

Saya pun mencoba mengetikkan kata kunci judul di atas di mesin mbah Google untuk mencari tahu tentang bagaimana sih sesungguhnya tinjauan mengenai pengaruh deadline tersebut terhadap kita. Ternyata ada banyak sekali jawaban yang diberikan oleh si mbah.

Dari segi bahasa kata deadline memiliki arti: a time by which something must be done; originally meaning “a line that does not move” and “a line around a military prison beyond which an escaping prisoner could be shot” [1]. Kalau boleh diartikan bebas, intinya adalah garis di mana bila kita melewatinya, maka kita atau projek kita akan MATI! Oleh karena itu, orang sering bilang, apabila kita ingin seseorang atau diri kita sendiri segera melakukan suatu pekerjaan/aksi, maka beri dia deadline. Deadline tersebutlah yang akan membuat orang termotivasi dalam melakukan suatu pekerjaan.

“Deadline Pressure: Use it to Your Advantage”, itu adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Don A. Moore (profesor, Carnegie Mellon University) [2]. Saya belum membaca buku tersebut. Tapi saya setuju dengan judulnya. Yap, kata deadline memang identik dengan pressure. Pressure tersebut semakin mendekati deadline, akan semakin meninggi. Tentunya bekerja di bawah pressure tinggi membuat kita tidak nyaman dalam melakukan suatu pekerjaan. Akan tetapi, tanpa adanya Continue reading