Relaksasi di Singapore Botanic Gardens

Kalau Anda adalah sesosok penikmat alam dan sedang berada di Singapura, sempatkan untuk berkunjung ke Singapore Botanic Gardens. Kalau Anda pecinta lari, datanglah ke sana dengan mengenakan perlengkapan lari Anda. Sempatkan juga untuk berlari di sana mengikuti “track” yang sudah dibuat menjelajahi taman-taman, kebun-kebun, dan hutan-hutan di sana.

Yup, pada momen jalan-jalanku ke Singapura untuk menonton Singapore Open 2014 yang lalu (baca di sini dan di sini), aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Botanic Gardens ini. Aku datang ke sana pada hari Minggu pagi (13/4). Dari stasiun Bugis aku menaiki MRT East West Line (hijau) ke arah Joo Koon, turun di stasiun Buona Vista, lalu naik MRT Circle Line (kuning) ke arah Marina Bay atau Dhoby Ghaut, dan turun di stasiun Botanic Gardens. Perjalanan lumayan jauh, memakan waktu kira-kira 30 menit.

Aku tiba di sana pukul 9 pagi waktu setempat. Walaupun terbilang masih pagi, tapi cuaca di sana cukup panas menyengat ternyata. Jarak dari pintu keluar stasiun MRT ke Botanic Gardens ini sangat dekat. Cuma belasan meter saja. Masuk ke dalam Singapore Botanic Gardens ini tidak dipungut biaya.

Gerbang masuk Botanic Gardens dari sisi stasiun MRT ini berada di sisi barat laut. Sementara Botanic Gardens ini memanjang dari utara ke selatan. Areanya sangat luas. Total luasnya adalah 74 hektar. Kalau kita ingin menjelajahi seluruh sudut di Botanic Gardens ini, kita memang harus meluangkan banyak waktu di sana.

Botanic Gardens ini selain berupa taman-taman yang ditumbuhi berbagai macam pohon, juga terdapat beberapa kebun tematik, antara lain National Orchid Garden, Evolution Garden, Healing Garden, Rain forest, dan Jacob Ballas Children’s Garden. Namun, dalam kesempatan saat itu aku cuma sempat menjelajahi Evolution Garden dan Healing Garden saja. Itu pun ada beberapa area tanaman yang kulewati di Healing Garden.

Evolution Garden

Evolution Garden

Healing Garden

Healing Garden

Di dalam Evolution Garden kita akan dibawa menyusuri timeline waktu perkembangan evolusi tumbuhan dari zaman ke zaman. Jadi disebutkan bahwasannya tumbuhan sudah ada di muka bumi ini sejak kurang lebih 3,5 juta tahun yang lalu. Sementara manusia “baru” ada 100 ribu tahun yang lalu.

Ya, tentunya tumbuhan yang tinggal di Evolution Garden ini tidak benar-benar hidup 3,5 juta tahun yang lalu. Zaman-zaman yang sangat lampau itu hanya diceritakan saja apa yang sedang terjadi dan pengaruhnya terhadap evolusi tumbuhan. Ini jadi kayak belajar pelajaran Biologi di sekolah lagi, haha.

Sementara itu, di Healing Garden, sesuai namanya, kita akan diajak melihat-lihat berbagai tanaman obat-obatan atau yang telah diteliti (dan dipercaya) memiliki khasiat tertentu. Misalnya nih, tumbuhan Sambung Nyawa (Gynura procumbens) yang bermanfaat untuk menurunkan demam dan penyakit disentri. Lalu, ada juga tumbuhan Jarak Minyak (Ricinus communis) yang bermanfaat untuk menyembuhkan batuk, bronkitis, demam, dan penyakit kulit. Dan masih banyak tanaman obat lainnya.

Tenang saja, tanaman-tanaman di Healing Garden ini tidak ditanam secara random (acak) kok. Tanaman-tanaman itu dikelompokkan berdasarkan khasiatnya terhadap tubuh manusia, yakni: (1) Head, neck, ear, nose & throat, (2) Respiratory & circulation system, (3) Digestive & related system, (4) Reproductive system, (5) Muscles, skeleton, skin, & nervous system, and (5) Toxic plants.

Namun, perlu diperhatikan walaupun semua tanaman di sana memiliki khasiat untuk kesehatan manusia, bukan berarti kita diperbolehkan untuk memetik tanaman di sana. Jika tertarik untuk mempelajari semua tumbuhan yang ada di sana, tidak perlu capai-capai mencatat satu-satu tumbuhan di sana. Untuk pengguna Android, mereka bisa menginstal aplikasi Healing Garden dari Google Play Store di sini.

Selain kebun-kebun tematik, di Singapore Botanic Gardens ini juga banyak taman-taman terbuka yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung untuk berpiknik. Kita bisa membawa tikar sendiri kemudian menggelarnya di sana. Membawa bekal makanan dari rumah lalu dimakan bersama di sana bersama orang-orang terdekat. Atau membaca buku sambil menikmati semilir angin berhembus di antara pepohonan. Atau bermain lempar-lemparan bola bersama anak-anak. Atau bisa juga hanya mengamati angsa-angsa yang sedang berenang di kolam dekat taman. Bikin relaksasi banget nggak sih, haha.

Gelar tikar di taman

Gelar tikar di taman

Oh ya tips paling penting untuk jalan-jalan ke sini: jangan lupa membawa botol minuman! Berjalan-jalan menjelajahi area Botanic Gardens yang sangat luas tentu akan membuat kita haus. Apalagi cuaca di Singapore ini cukup terik, seperti yang kualami kemarin padahal hari masih pagi.

Aku tidak melihat ada orang berjualan makanan/minuman di Botanic Gardens ini. Well, setidaknya aku bisa memastikan di sepanjang jalan yang kulalui saja. Botol minuman yang kita bawa bisa diisi ulang di beberapa water tap (kran air minum) yang tersedia di beberapa titik. Jangan khawatir, Insya Allah airnya sudah terjamin bersih kok.

Water tap di Evolution Garden

Water tap di Evolution Garden

Total aku berkeliling di dalam Singapore Botanic Gardens ini adalah selama 2 jam-an saja. Aku merasa 2 jam di sana sudah cukup, walaupun belum bisa semua tempat keeksplor. Alasan lainnya sebenarnya karena sudah kelaparan sih, haha. Pagi itu aku hanya sempat sarapan 1 potong roti tawar.

Oh ya, ini jadi salah satu tips juga. Jangan lupa makan sebelum berkeliling di Botanic Gardens ini supaya pengalamannya lebih maksimal. Jalan bersama orang-orang terdekat tentu lebih asyik dan bisa berlama-lama di sana daripada jalan sendirian.

Asyiklah jalan-jalan di Singapore Botanic Gardens ini. Segar lihat yang hijau-hijau. Relaksasi yang menyejukkan dan menenangkan (dan bikin keringatan juga sih karena kecapekan, hehe). :)

 

About these ads

2 thoughts on “Relaksasi di Singapore Botanic Gardens

  1. Hallo Dhito… senangnya bisa ke Singapore Botanic Gardens… SBG itu terdaftar sebagai satu-satunya UNESCO World Heritage Tentative List yang dimiliki Singapore lho dan sekarang lagi gencar dipromosikan terus supaya bisa jadi world heritage site. (dan miris deh rasanya kalo membandingkan dengan Indonesia yang sudah punya 8 World Heritage Sites -termasuk 1 Rainforest yang statusnya in danger- dan masih 26 WH Tentative List! rasanya ga pernah kedengeran suaranya…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s