[INFO] Titian Karir Terpadu ITB April 2011

Beberapa hari yang lalu saya dapat info dari milis. Kabarnya April ini, tepatnya tanggal 1-3 atau seminggu sebelum wisuda ITB April, akan diadakan Titian Karir Terpadu kembali. Biasanya kegiatan titian karir ini kan diadakan setiap bulan Oktober, yakni seminggu menjelang acara wisuda ITB Oktober. Namun, mulai 2011 ini, acara Titian Karir ITB akan diadakan sebanyak 2 kali dalam setahun, yakni setiap bulan April dan Oktober menjelang acara wisuda.

Info lengkap mengenai kegiatan Titian Karir Terrpadu ITB April 2011 adalah sebagai berikut (disarikan dari yang saya dapat dari milis):

Waktu :  1 – 3 April 2011

Tempat : Aula Barat & Aula Timur ITB

Organizer :  ITB Career Center

Detail

Mulai tahun ini, Titian Karir Terpadu akan dilaksanakan 2 kali dalam setahun yaitu di bulan April & Oktober.

4 Aktivitas Titian Karir Terpadu ITB:

  1. Pembukaan: tanggal 1 April 2011 jam 08.00 – selesai
  2. Pameran Industri: tanggal 1 – 3 April 2011 mulai jam 09:00 – 17:00 WIB bertempat di Aula Barat & Aula Timur ITB. Tersedia lebih dari 50 lowongan pekerjaan dari 33 perusahaan yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Titian Karir Terpadu ITB April 2011 diikuti oleh: Astra International; Pamapersada Nusantara; United Tractors; Krakatau Engineering; Formulatrix; Jaya Konstruksi; Aplikanusa Lintas Arta; BNI; PT. Pelindo III; Schlumberger; Indocreative Indonesia; Saptaindra Sejati; Bursa Efek Indonesia; PT. Sulzer Turbo Services Indonesia; Prima Vista, Bank Bukopin Tripatra; Syariah Bukopin; Accenture; Schott Igar Glass; Triputra, Nestle; Thiess; Total E&P Indonesie; PT. Jati Sungkai; Trakindo; Bank DBS; Bank Mandiri; XL Axiata; ConnocoPhillips; Multipolar; PT. PTI; Artajasa
  3. Presentasi Perusahaan: tanggal 1 – 3 April 2011 mulai jam 09:00 – 17:00 WIB bertempat di Aula Barat & Aula Timur ITB.
  4. Pelatihan: jadwal akan diinformasikan segera.   Acara ini di sponsori oleh: Astra International, United Tractors, Pamapersada Nusantara, Total E&P Indonesie dan Tripatra Engineering Indonesia.

Nah, buat teman-teman pejuang pencari kerja (termasuk saya nih), jangan lewatkan acara ini ya, dan persiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya! Semoga bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkan :D.

 

Khutbah Jumat Amien Rais di Salman-ITB

Aku terkejut saat bapak Amien Rais tiba-tima menjadi khatib khutbah Sholat Jumat hari ini tadi. Aku baru ingat kalau hari ini ada acara Konferensi Energi Nasional Mahasiswa Indonesia (KENMI) yang diadakan di ITB dan mengundang Pak Amien sebagai salah satu pembicaranya. Namun, aku tidak menyangka kalau beliau juga mengisi khutbah Jumat di Masjid Salman. Aku merasa beruntung sekali bisa mengikuti khutbah Jumat oleh beliau karena beliau merupakan sosok negarawan yang saya kagumi :D.

Poin-poin yang beliau bahas dalam khutbah Jumat ini antara lain fenomena revolusi yang tengah terjadi di Timur Tengah, bagaimana umat Islam di Indonesia harusnya bersikap, hingga ajakan beliau untuk memperbaiki akhlak kita sebagai umat Islam. Hal yang paling saya ingat dari perkataan beliau adalah (kurang lebih redaksinya seperti berikut) “Jika Islam adalah lagu, maka lagu itu adalah lagu yang sangat bagus. Namun, penyanyinya tidak mampu menyanyikannya dengan baik sehingga terlihat lagu itu begitu buruk”. Seperti itulah beliau menganalogikan umat Islam sekarang.

Sehabis sholat Jumat, beliau meluangkan waktunya untuk berdialog dengan jamaah Sholat Jumat dengan memberikan 3 kesempatan pertanyaan dari jamaah. Jamaah yang hadir pun begitu antusias dalam mengikuti diskusi dengan beliau itu.

Dialog Jumat

Dialog Jumat

Bagi yang ingin mendengarkan isi khutbah dan diskusi beliau, bisa mengunduh file mp3 di bawah ini (ukurannya lumayan gede sih, 33 MB). Oiya, seperti biasa, cara mengunduhnya adalah klik link download di bawah ini, ubah ekstensi file-nya dari doc menjadi zip, lalu ekstrak deh. :D

khutbah & dialog jumat amin rais

Kucing Padepokan Sandal36B

Beberapa waktu yang lalu aku pernah menulis tentang kucing yang melahirkan di kontrakanku (a.k.a. “Padepokan Sandal36B”). Dari 6 anak kucing yang lahir saat ini tinggal 1 saja yang masih hidup. Tiga kucing mati karena dibunuh (lebih tepatnya dimakan?) oleh seekor kucing garong. Sementara dua kucing lainnya mati karena kekurangan gizi akibat kalah bersaing memperebutkan susu induknya dengan kucing satunya. Nah, satu kucing yang masih hidup itu sekarang sudah besar dan sudah bisa main-main.

Gemas juga melihat polah tingkahnya yang lucu itu. Oiya, perkenalkan namanya Bonci. Itu yang memberi nama adalah teman satu kontrakanku, si Wafi. Tiap malam, Bonci sering tidur bersama Wafi di kamarnya. Mereka berdua plus induknya, si Kuma, sudah layaknya keluarga bahagia aja, hehehe. Si Bonci ini memang tidak bisa sendirian. Tiap kali lihat orang pasti diikutin. Udah gitu dia berlagak seperti predator gitu, kalau jalan, suka mengintai-ngintai. Lumayanlah ada hiburan baru di kosan. Tiap lagi jenuh dengan belajar atau aktivitas lainnya, aku main-main sama si Bonci ini, hehehe.

Ni dia foto si Bonci ketika lagi menyusu ke induknya. :D

Bonci dan Kuma

Bonci dan Kuma

Catatan Perjalanan Tour Sukabumi & Ciamis (Day 4) : Adventure in Green Canyon

Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya bahwa rombongan kami berpisah menjadi dua saat meninggalkan Sukabumi. Yang satu balik ke Bandung dan satunya lagi melanjutkan perjalanan ke Banjar. Nah, aku termasuk rombongan yang disebutkan terakhir tadi.

Kami tiba di Banjar pukul 2 dini hari. Mantap bengetlah si Ginanjar, temanku yang jadi driver malam itu. Jarak Bandung-Banjar ditempuh hanya dalam 3 jam kurang. Tempat singgah kami di Banjar adalah rumah Ginanjar. Kebetulan orang tuanya memiliki dua rumah. Yang kami tempati saat itu adalah rumah dia yang baru yang masih belum ditinggali. Kami benar-benar berterima kasih sekalilah sama keluarga Ginanjar yang meminjamkan rumahnya buat tempat istirahat :).

Sesampainya di rumah Gin, panggilan akrab Ginanjar, aku tidak langsung tidur, tapi nonton siaran sepak bola dulu. Waktu itu ada siaran pertandingan Serie A Napoli vs Cagliari di TV. Tapi karena rasa lelah yang masih mendera dan pertandingan yang membosankan, aku pun tertidur.

Pukul 5 pagi tiba-tiba aku terbangunkan oleh alarm handphone yang disetel anak-anak. Tapi entah kenapa kok tidak ada yang bangun, hihi. Lalu iseng-iseng kupotret saja anak-anak itu. Ini dia fotonya:

Tidur di rumah Gin

Tidur di rumah Gin

Setelah itu, aku langsung sholat Shubuh dan tidur lagi. Mau bagaimana lagi, sebabnya masih ngantuk banget, hehehe.

Bangun-bangun, ternyata sudah jam 7 saja. Saat aku bangun, anak-anak sudah ada yang mandi, lagi mandi, antri mandi, bikin kopi, dan tidur. Ada saja ternyata aktivitas mereka.

Tujuan utama kami hari itu adalah objek wisata Green Canyon. Sebuah objek alam berupa tebing-tebing dengan stalaktit yang berada di sisi-sisi sungai, terdapat di kawasan Cijulang, Kabupaten Ciamis. Kalau mendengar kata Green Canyon, kita mungkin teringat dengan kata Grand Canyon di Amerika Serikat sana. Yah, memang mirip-mirip gitulah tempatnya, hehehe. Namun sebenarnya warga setempat juga punya sebutan sendiri untuk objek wisata itu, tapi tentu saja namanya menggunakan bahasa Sunda, Cukang Taneuh sebutannya.

Pagi itu kami berangkat dari rumah Gin sekitar pukul setengah 9. Kami mampir makan bubur ayam dulu di pinggir jalan di suatu sudut Kota Banjar. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Green Canyon. Perjalanan menuju ke Green Canyon itu kurang lebih memakan waktu hampir 2 jam dari rumah Gin tadi.

Sepanjang jalan menuju Green Canyon itu kami melalui sungai-sungai yang warna airnya tampak hijau. Namun, ketika kami sampai di Green Canyon, kami sedikit kecewa karena warna sungai di sana justru cokelat. Kami memang kurang beruntung saat itu. Memang sih, kata orang-orang, sebaiknya kalau main ke Green Canyon jangan saat musim hujan, atau habis hujan sehari sebelumnya. Sebab, setiap habis turun hujan warnanya pasti berubah jadi cokelat.

Tapi tidak mengapa, toh kami juga sudah terlanjur datang. Masak mau balik lagi, hehe.

Di depan gerbang Cukang Taneuh

Di depan gerbang Cukang Taneuh

Baliho Cukang Taneuh

Baliho Cukang Taneuh

Untuk dapat menikmati wisata di Green Canyon, kita harus membayar Rp75.000 per perahu. Per perahunya bisa diisi sekitar 5-6 orang pengunjung. Setiap perahu biasanya ada dua orang tukang perahu. Yang satu berperan juga sebagai body rafting guide.

Oh ya, perlu diketahui, wisata Green Canyon ini tidak sekadar wisata naik perahu menikmati pemandangan alam saja, tetapi juga bisa body rafting menyusuri sungai (kalau Anda tertarik). Sebabnya, perahu tidak bisa berjalan jauh karena banyak ruas sungai yang terdapat bebatuan besar di tengah-tengahnya sehingga perahu pun tidak bisa lewat. Oleh karena itu, kalau masih ingin menikmati alam Green Canyon itu lebih jauh kita harus menyusuri sungai itu dengan berenang. Tenang saja, kita tidak perlu jago berenang untuk dapat menyusuri sungai itu. Kita bisa memakai rompi pelampung saat berenang itu. Jadi jangan khawatir akan tenggelam. Lagi pula kita juga akan dipandu oleh tukang perahu yang merangkap jadi body rafting guide itu. Dia yang akan mengarahkan kita rute mana yang aman dilalui.

Perlu diketahui juga, arus sungai di Green Canyon ini cukup deras dan kita harus berenang melawan arus tersebut untuk mencapai bagian Green Canyon yang lebih jauh. Mengenai rompi pelampung itu, kita tidak perlu membayarnya lagi karena itu sudah termasuk dalam biaya yang Rp75.000 tadi (fasilitas standar). Yang harus kita bayar adalah tips ke tukang perahunya karena sudah mau menunggu dan (bahkan) memandu kita berenang menyusuri sungai itu. Pengalaman kami kemarin, setelah melalui tawar-menawar yang cukup alot, setelah kami mulai dari harga Rp20.000, Rp30.000, Rp50.000, akhirnya berhenti di angka Rp75.000. Kalau kata akang tukang perahunya biasanya dia minta ke wisatawan lain itu Rp100.000-Rp150.000. Dalam hati kami berkata, “Ya wajar saja kang kalau wisatawannya bule dikasih harga segitu.” Serius, Green Canyon ini banyak juga ternyata pengunjung bulenya, seperti yang kami temui pada saat itu.

Hal lain yang juga tidak boleh dilupakan adalah kamera. Tentunya kita nggak ingin melewatkan momen seru menyusuri sungai ini kan. Namun, mau tidak mau kita harus berenang alias berendam di dalam air saat body rafting itu. Makanya, perlu dipersiapkan juga kamera anti air (under water camera) yang biasa digunakan untuk memotret di dalam air. Atau bisa juga tas kecil yang dibungkus selimut tas anti air seperti yang dibawa temanku si Kun kemarin. Karena dia, kami bisa foto-foto sepuasnya di Green Canyon itu. :D

Nah, ini aku tampilkan foto-foto kami sewaktu di Green Canyon kemarin (maaf sebagian foto agak blur):

Dermaga wisata Cukang Taneuh

Dermaga perahu

Naik perahu menuju Green Canyon

Naik perahu menuju Green Canyon (photo by Kuncoro)

Perjalanan naik perahu

Perjalanan naik perahu

Tebing-tebing Green Canyon

Tebing-tebing Green Canyon

Stalaktit-stalaktit Green Canyon

Stalaktit-stalaktit Green Canyon

Siap berenang

Siap berenang (photo by Kuncoro)

"Pos 1" body rafting (photo by Kuncoro)

"Pos 1" body rafting (photo by Kuncoro)

Di kolam "pemandian putri"

Di kolam "pemandian putri" (photo by Kuncoro)

Aliran sungai Green Canyon 1

Aliran sungai Green Canyon 1 (photo by Kuncoro)

Aliran sungai Green Canyon 2

Aliran sungai Green Canyon 2 (photo by Kuncoro)

Habis body rafting

Habis body rafting

Balik ke dermaga

Balik ke dermaga

Kami benar-benar puas setelah menghabiskan waktu kurang lebih 2,5 jam berpetualang di Green Canyon ini. Terus terang biaya sebesar itu awalnya memang terasa mahal bagi kami. Namun, setelah menjalani langsung body rafting di Green Canyon, dan sikap kooperatif tukang perahunya yang benar-benar membantu kami saat body rafting itu, baik itu membantu kami berenang (dengan menunjukkan arah atau memberikan tali), maupun memotretkan kami dengan senang hati, kami pun jadi tidak terlalu menyesal harus membayar semahal itu. :D

Puas berpetualang di Green Canyon, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Pantai Batu Karas. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi Green Canyon. Cuma butuh waktu sekitar 15 menit menuju ke sana dengan kendaraan.

Saat memasuki kawasan Pantai Batu Karas ini, yang terpikir di benakku adalah pantai ini mirip dengan pantai di Bali. Terutama dengan kehadiran turis-turis asing di sana. Selain itu, di Pantai Batu Karas ini juga terdapat orang-orang yang bermain selancar atau banana boat sebagaimana yang ada di pantai-pantai di Bali. Ombaknya di sana juga tenang, tidak seganas ombak-ombak pantai selatan pada umumnya. Ombak di sana punya karakteristik yang cocok untuk main selancar. Wajar saja ombak di Pantai Batu Karas ini tidak segarang ombak di pantai selatan Jawa lainnya. Pantai ini sebenarnya tidak menghadap langsung ke sebelah selatan (Samudra Hindia), tetapi kalau kita amati di peta, pantai ini sebenarnya malah menghadap ke timur karena pantai ini adalah bagian dari daratan yang menjorok ke lautan.

Bagaimana? Ingin main selancar di Batu Karas? Nggak punya/bawa papan selancar? Tenang, di sana ada distro yang menyediakan itu semua (lagi-lagi tampilannya pun mirip dengan yang ada di Bali).

Baysurf

Baysurf (photo by Kuncoro)

Di Batu Karas ini juga terdapat penginapan-penginapan yang tersebar di sepanjang jalan sejajar dengan garis pantai. Aku sempat iseng bertanya mengenai tarif penginapan kepada salah seorang bapak yang tampaknya mengelola salah satu penginapan di sana. Kata beliau sih tarifnya sekitar rentang Rp200.000 per malam, tapi bisa diisi banyakan orang. Hmm… boleh juga tuh kalau ramai-ramai. Tapi sepertinya sih memang masih ada yang lebih murah lagi.

Oh ya, waktu itu sekalian kami meminta bapak itu untuk memotret kami di pantai Batu Karas ini, Mumpung ada yang bersama kami, hehe:

Foto bersama @ pantai Batu Karas

Foto bersama @ pantai Batu Karas

Pantai Batu Karas

Pantai Batu Karas

Banana boat

Banana boat

Surfing

Surfing

Sayangnya kami tidak berlama-lama berada di sana karena waktu kami sangat terbatas saat itu. Saat berada di Batu Karas itu, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 15.30. Mau tidak mau kami harus segera kembali ke Banjar untuk selanjutnya bersiap-siap kembali ke Bandung. Maklum, mobil yang kami sewa ini memang harus kembali paling lambat pukul 9 malam. Padahal banyak sekali tempat wisata di sekitar Pangandaran atau Cijulang itu yang ingin kami kunjungi juga. Namun, apa daya waktu kami terbatas. Ya mungkin lain waktu jika ada kesempatan aku akan ke sana lagi. :D

Dari Batu Karas kami langsung bergerak lagi menuju ke Banjar. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk menempuh jarak Pangandaran-Banjar itu. Di tengah perjalanan kami menyempatkan untuk sholat Ashar dijama’ dengan Dhuhur di masjid pinggir jalan di ruas Banjarsari.

Sesampainya di Banjar kami tidak langsung menuju ke rumah Gin, tetapi mampir makan malam dulu di rumah makan Beta yang berada di persis setelah pintu masuk Kota Banjar di sisi barat, kebetulan juga dekat dengan rumah Gin. Nyaman sekali suasana tempat makan di sana. Rumah makan dengan arsitektur bambu dan rotan gitu. Selain itu juga terdapat kolam ikan berada di sekeliling dan di bawah rumah makan itu. Malam itu kami makan nasi dengan menu lalapan burung ayam-ayaman. Hmm… sedap sekali ayam-ayamannya. Sambelnya juga sangat gereget bikin nafsu makan meningkat, hehehe.

Menu lalapan ayam-ayaman

Menu lalapan ayam-ayaman

Makan malam @ rumah makan Beta

Makan malam @ rumah makan Beta

Alhamdulillah, akhirnya perut terisi juga setelah seharian cuma makan bubur ayam, hehe. Habis dari rumah makan itu kami langsung balik ke rumah Gin. Tanpa banyak membuang waktu, begitu kami tiba di rumah Gin, kami langsung mengemasi barang-barang kami dan bersiap-siap untuk pulang ke Bandung. Setelah semua barang-barang selesai dimasukkan ke dalam mobil, sebelum pulang ke Bandung, kami foto-foto dulu di depan rumah Gin. :D

Di depan rumah Gin

Di depan rumah Gin

Perjalanan Banjar-Bandung malam itu kami tempuh dalam waktu hampir 4 jam. Termasuk lama memang. Mau bagaimana lagi, malam itu di Nagrek benar-benar lagi macet parah. Alhasil kami baru tiba di Bandung sekitar pukul 11 malam lebih. Denda Rp50.000 harus kami tanggung atas keterlambatan dalam pengembalian mobil yang kami sewa itu.

Namun, overall kami benar-benar cukup puas dengan jalan-jalan bersama tengah semester ini. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan dan tidak akan pernah kami lupakan. Selanjutnya kami berencana mengunjungi wisata alam yang lain yang ada di Indonesia lain waktu. Sekarang saatnya mengembalikan fokus ke kuliah dan tugas akhir kembali. :D

Catatan Perjalanan Tour Sukabumi & Ciamis (Day 3) : Jalan-Jalan ke Pelabuhan Ratu

Ahad, 20 Maret 2011. Hari itu seharusnya kami check out dari penginapan pukul 6.30 jika merunut pada run down yang sudah dibuat. Namun, karena kecapekan akibat padatnya kegiatan jalan-jalan di hari Sabtu-nya, teman-teman banyak yang kesiangan. Kami pun baru berangkat dari tempat penginapan sekitar pukul 9 pagi. Sebelumnya tentu saja kami sarapan dulu dengan menu yang masih sama seperti hari sebelumnya, yakni nasi, telor dadar, mie goreng, plus sambel jampang yang enak pedes-pedes itu.

Setelah semua selesai sarapan dan mandi, serta barang-barang telah beres di-packing dan yakin tidak ada barang tertinggal, kami pun berangkat meninggalkan Surade menuju ke kawasan Pelabuhan Ratu.

Jarak tempuh perjalanan dari Surade menuju Pelabuhan Ratu ini cukup lama. Kalau tidak salah, ada sampai 2 jam perjalanan. Tapi, sebelum menuju ke Pelabuhan Ratu, kami main-main dulu ke Pantai Loji. Di dekat pantai Loji ini terdapat sebuah kuil. Teman-teman pun mencoba mampir ke sana melihat-lihat.Namanya juga kuil, tempat ini sebenarnya bukan objek wisata, tapi tempat ibadah. Wah, gimana nih guide Kang Adi? Kok ngajak main-main ke tempat ibadah orang sih, orang lagi ibadah kok malah dilihatin :D. Tapi anehnya, di sana dibangun juga kamar Nyi Roro Kidul. Tanya kenapa?

Samudra Hindia tampak dari atas kuil

Samudra Hindia tampak dari atas kuil

Di kuil

Di kuil

Berpose kuda-kuda wing chun

Berpose kuda-kuda wing chun

Kalau Pantai Lojinya sendiri, tidak seperti pantai lain pada umumnya yang berpasir, sebagian besar permukaannya berupa bebatuan. Tapi siang itu cukup banyak juga orang-orang yang berwisata di Pantai Loji itu, sekedar melihat-lihat laut, berfoto, atau iseng melempar batu ke laut. Atau mungkin sekedar duduk-duduk melihat samudra Hindia sambil duduk di bawah pohon seperti mereka ini :P :

Memandangi laut di Loji

Memandangi laut di Loji

Pantai Loji

Pantai Loji

Dari Pantai Loji kami melanjutkan perjalanan kembali menuju kawasan Pelabuhan Ratu. Objek yang kami tuju adalah Pantai Karang Hawu. Perjalanan menuju ke sana kira-kira memakan waktu sekitar sejam.

Sesampainya di Karang Hawu, mata kami langsung berbinar-binar begitu melihat ada lapangan bola dengan dua gawang dari bambu di sana. Timbullah hasrat untuk bermain sepak bola pantai di sana. Tak jauh dari tempat parkir mobil ada pedagang yang jualan bola plastik. Kami pun membeli satu buah bola plastik untuk dimainkan bersama.

And… the show goes on! Setelah dibagi dua tim kami mulai memainkan bola dari kaki ke kaki, saling menyerang ke gawang lawan. Baru sekitar 15 menit bermain nafas kami mulai terengah-engah. Ternyata berat juga main bola di pantai. Bukan berat bolanya, tapi berat di larinya. Berlari di pantai itu berat karena kesulitan mengayunkan kaki. Tiap kali berlari, rasanya ada gundukan pasir yan nyangkut di kaki ini sehingga terasa berat. Cukup lebaynya, hahaha. Yang jelas dalam permainan itu timku menang 4-0 walaupun aku nggak mencetak gol. Tapi yang penting ikut menyumbangkan assist, hehehe.

Main sepak bola pantai

Main sepak bola pantai

Capek bermain bola, kami beralih bermain-main air di laut. Namun, tidak lama kemudian, setelah puas bermain-main air kami beristirahat di sebuah warung di dekat pantai sambil meminum es kelapa muda. Harga kelapa muda di warung itu Rp7.000 per buah. Lumayan, sambil mengisi perut yang kosong. Setelah itu lanjut… foto-foto lagi, hehehe.

Main di pantai

Main di pantai

Pantai Karang Hawu

Pantai Karang Hawu

Makan kelapa

Makan kelapa

Karang Hawu

Karang Hawu

Di atas karang

Di atas karang

Di depan pantai

Di depan pantai

Iseng di Pantai

Iseng di Pantai

Puas bermain-main di pantai plus foto-foto, kami pun segera bersiap-siap untuk cabut lagi. Sebelumnya, teman-teman mandi dan sholat dulu di kamar mandi umum yang banyak bertebaran di sekitar pantai. Setelah semuanya beres, kami pun segera memacu mobil kembali ke arah Sukabumi.

Awalnya rencana kami adalah lanjut jalan-jalan ke Situ Gunung yang juga masih berada di Kabupaten Sukabumi. Namun, karena sudah terlalu sore dan jarak tempuh juga sangat jauh, akhirnya diputuskan kami langsung saja melaju menuju Sukabumi Kota. Di sana kami mampir makan malam di tempat yang direkomendasikan oleh Kang Adi. Namanya warung “Cah Solo”. Kami pun makan malam di sana. Selesai makan, tiba-tiba ada kepanikan di antara teman-teman. Ternyata Kuncoro baru sadar dompetnya hilanh entah di mana. Kemungkinan besar terjatuh di tempat makan itu. Kami pun semua membantu mencarinya bersama-sama. Namun tetap tidak ditemukan. Dengan berat hati kami pun menghentikan pencarian dan meminta tolong pemilik tempat makan agar menghubungi si Kun jika menemukan dompetnya.

Yak, makan malam di Sukabumi kali ini mengakhiri perjalanan kami bertiga belas selama kurang lebih 2 hari. Dari Sukabumi ini rombongan dipisah menjadi dua: yang satu kembali ke Bandung dan satunya lagi meneruskan perjalanan ke Banjar. Kenapa dipisah menjadi dua? Karena ada beberapa teman yang keesokan harinya harus menghadapi UTS, kuliah, atau ada deadline tugas yang telah menanti sehingga harus segera kembali ke Bandung. Aku sendiri ikut rombongan yang meneruskan perjalanan ke Banjar. Jadi, tenang saja, report mengenai jalan-jalan di sekitaran Banjar atau Ciamis akan kubuatkan juga setelah ini, hehehe. :D